Subscribe to rss rss

“Sungguh Menakjubkan Urusan Seorang Mukmin”

Posted by : | On : 12-11-2011 | Comments (0)
“Sungguh Menakjubkan Urusan Seorang Mukmin”

“Sungguh Menakjubkan Urusan Seorang Mukmin”

Karya Dr. Falih bin Muhammad bin Falih Ash-Shughayyir

Jiwa manusia adalah salah satu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala , salah satu rahasia dari rahasia alam semesta. Penelitian modern belum bisa mengungkapkan hakikat jiwa manusia, apalagi tentang asal usulnya. Penyelidikan para ahli psikologi modern di barat dan di timur terhadap rahasia ini adalah di dasari atas  teori dan pengalaman belaka. Mereka tidak berhasil menyelamatkan masyarakat mereka dari penyakit-penyakit jiwa yang semakin lama semakin bertambah banyak. Sayang nya penyakit-penyakit jiwa ini telah menular dan  tersebar luas di tengah-tengah kaum muslimin. Yakni ketika umat islam telah melepaskan agama mereka dan telah melemah kekuatan iman dalam jiwa mereka. Maka setan pun menguasai mereka sehingga mereka jadi tawanan perasaan was-was dan godaan setan. Lalu mengikuti apa yang dibisikkan oleh hawa nafsu dan syahwat mereka. Hasilnya tergoncanglah kejiwaan mereka, terongronglah kekuatan dan ketahanan mereka Ketika  mereka ditimpa musibah tergunjanglah jiwa mereka, sehingga musibah tersebut membahayakan kehidupan mereka. Tetepi bagi seorang muslim  yang benar-benar  beriman, musibah dan bala’ yang mereka alami tidak akan merusak jiwa mereka bahkan justru mereka bersyukur atas musibah yang mereka alami. Karena mereka yakin musibah yang dialami seorang muslim sebagai penghapus dosa bagi mereka. Dengan mempelajari sebagian sebab dan akibat terhadap kondisi yang dihadapi  setiap manusia dalam kehidupan duniawinya, akan  memberikan pengaruh pada jiwa manusia dan masyarakat. Nikmat dan bala’ yang silih berganti menimpa manusia kebanyakan  menjadi penyebab timbulnya berbagai penyakit jiwa, seperti sombong, takabur, ujub, demikian pula stres, putus asa, kegoncangan jiwa dan lainnya.

Padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah bersabda:

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya baik baginya dan kebaikan itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apa bila ia mendapat kesenangan ia bersyukur dan itulah  yang terbaik untuknya. Dan apabila mendapat musibah ia bersabar dan itulahyang terbaik untuknya.” (shahih muslim no. 7500 hal. 1295).

Hadits yang mulia ini menjadi penyembuh dan obat bagi siapa saja yang diuji dengan dua ujian, yakni nikmat dan bala’. Kedua rukun ini adalah, syukur di saat lapang dan sabar disaat sempit dan tertimpa bala’. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menjelaskan bahwa syukur dan sabar merupakan sebab kebaikan dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Yang mendorong  seseorang untuk rutin beramal dan senantiasa mengharapkan kebaikan guna memakmurkan dunia dan menegakkan agama Allah di dalamnya. Seorang mukmin tidak akan sombong ketika mendapat nikmat dan tidak menggerutu ketika menghadapi bala’. Oleh karena itu ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Kalaulah sabar dan syukur itu ibarat dua ekor unta, maka aku tidak peduli unta mana yang aku kendarai.” (‘Uddatus Shobirin wa Dzakhiratus Syakirin hal.144).

Apabila seorang muslim menghiasi dirinya dengan dua akhlak yang agung ini maka keadaannya akan menjadi lebih baik dan lebih mulia dalam segala sisi, baik dari sisi kejiwaan, prilaku dan kehidupan. Tidak masalah bagi dirinya memperoleh nikmat atau tertimpa musibah, karena ia sadar apapun yang dialaminya merupakan takdir dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sesungguhnya kehidupan seorang mukmin penuh dengan ujian dan cobaan. Hal ini menuntutnya agar ia memiliki pemahaman dan akhlak dalam menghadapinya. Agar ia bisa keluar dari ujian tersebut sesuai dengan apa yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Yang menjadikan  mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Al-Mulk: 2).

Semua yang ada di sekitarnya, baik berupa nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dilimpahkan kepadanya untuk menunaikan Risalah Ilahi dalam kehidupannya di dunia atau berupa ujian dan rintangan  yang menghadang jalannya dalam menunaikan risalah tersebut. Kedua  kondisi tersebut adalah ujian dan cobaan bagi seorang muslim.

Maka ia membutuhkan keimanan yang kuat untuk melewati ujian tersebut. Ia harus memiliki bekal yang cukup agar kuat melewati jalan yang berat dalam kehidupan ini. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah bersabda:

“Jannah diselimuti dengan perkara-perkara  yang dibenci sedangkan neraka diselimuti dengan pwerkara-perkara yang mengundang syahwat.” (Shohih Muslim no. 7130 hal.1288).

Tidak akan bisa melewati dua ujian ini dengan baik, yaitu nikmat dan bala’, kecuali orang yang memiliki dua sifat yang agung, yang dengannya akan tampak hakikat seorang mukmin, hakikat keimanannya dan hakikat keberadaannya di alam dunia.

Di dalam mengharungi kehidupan ini setiap anak manusia mengalami dua hal yang tidak bisa di hindari dalam kehidupannya. Kedua hal tersebut harus disikapi dengan bijaksana agar tidak menjadi masalah dalam kehidupan mereka. Kedua hal tersebut adalah kelapangan hidup dan kesempitan hidup.

Kelapangan Hidup

Kelapangan hidup itu adalah segala sesuatu yang membuat manusia senang atau nikmat yang membuat senang orang yang memperolehnya. Hal ini mencakupi seluruh kesenangan maknawi maupun materi yang Allah Subhanahu wa Ta’ala  limpahkan kepada hamba-hambanya. Dan diberikan secara khusus kepada siapa yang dikehendaki-Nya sebagai cobaan dan ujian.

Adapun seorang mukmin, ia menyikapi nikmat-nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala  tersebut dengan bersyukur. Ia sadar bahwa nikmat tersebut adalah pemberian dari yang Maha Kuasa, dipergunakan dalam rangka ketaatan kapada Allah Subhanahu wa Ta’ala  dan tidak menyebabkan mereka sombong dan lupa kepada yang memberikan nikmat tersebut. Maka ditulislah baginya pahala dan ganjaran  yang besar melebihi kegembiraan yang ia peroleh. Tanda seseorang bersyukur atas nikmat yang dilimpahkan padanya harus tercermin pada dirinya tiga keadaan. Dimana syukur ditegakkan atas tiga rukun tersebut :

1. Syukur Qolbi
Syukur Qolbi yaitu menggambarkan dan selalu merasakan Kurnia Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemahamurahan dan anugrah-Nya. Serta merealisasikan perasaan tersebut menjadi perasaan cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , Kitab suci-Nya dan Rasul Nya Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam.

Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam bersabda dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya ;

Empat perkara, barang sipa diberi keempatnya berarti ia telah mendapatkan kebaikan dunia akhirat : hati yang selalu bersyukur, lisan yang selalu berzikir, diri yang selalu bersabar  menghadapi bala’ dan istri yang tidak berkhianat pada dirinya dan pada harta suaminya. (‘Ash-Shabru wats Tsawabu’alaihi, tilisan Ibnu Abi Dunya hal. 36.)  

2. Syukur Lisan
Syukur lisan  yaitu pujian kepada  yang memberikan nikmat yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala . serta menyebut-nyebutkan nikmat-nikmat Allah  dan nikmat-Nya yang tiada terhitung dan terhingga. Rukun ini ibarat wasilah yang mengantarkan seseorang untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala  dari dalam hatinya keluar dengan menyebut-nyebutnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala  menyebutkan syukur ini dalam firman-Nya :

” Dan terhadap nikmat Rabb-mu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya dengan bersyukur ( dengan bersyukur )”. (QS. Adh-dhuhaa : 11 )

Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu bahwa rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam memegang tangannya lalu bersabda :

: Ya Allah, bantulah aku agar selalu mengingat-Mu, mensyukuri nikmat-Mu dan beribadah dengan baik kepada-Mu. (Sunan Abi Daud no. (1522) hal.(225) dan diriwayatkan juga oleh Ahmad, At-Tirmidzi dan An-Nasa’i ).

3. Syukur Seluruh Anggota Badan
Yaitu membalas nikmat dengan balasan yang setimpal. Ini merupakan jenis syukur yang paling agung dan paling benar. Yaitu pujian dan syukur yang terdetak dalam hati, diucapkan oleh lisan dan dituangka dalam kenyataan. Dan sebagian besar perkara agama apabila tidak di wujudkan menjadi prakteknya tidaklah dianggap mempunyai nilai dalam timbangan syariat. Banyak sekali ayat Al-Quran yang menggandengkan antara iman dengan amal shaleh atau sifat-sifat lain yang harus dimiliki. Allah Subhanahu wa Ta’ala  berfirman :

“Sesungguhnya orang-orang  yang beriman dan beramal shaleh bagi mereka adalah surga firdaus menjadi tempat tinggal. ( QS. Alkahfi : 107 ).

Telah diriwayatkan dari Al-Hasan Radhiyallahu ‘Anhu  ucapan beliau : ” iman bukanlah digapai dengan mimpi dan angan-angan akan tetapi iman adalah yang tertanam dalam hati dan diwujudkan dalam bentukm amal “.

Syukur dengan perbuatan termasuk jenis syukur yang paling mulia dan paling agung serta yang paling banyak diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala . penggunaan anggota tubuh sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat-nikmat Allah dan kurnia-Nya mencakup segala amal kebaikan dan ketaatan serta meninggalkan perbuatan maksiat dan kemungkaran.

Kesempitan Hidup

Kesempitan hidup adalah segala sesuatu yang membuat hidap seseorang menjadi sempit baik secara hakiki maupun maknawi. Seorang  mukmin dituntut sabar dalam menghadapi kesulitan hidup sebagai mana ia dituntut bersyukur atas kelapangan yang dirasakannya. Sabar pada hakikatnya adalah menahan diri dari kegelisahan . Allah Subhanahu wa Ta’ala  memuji orang-orang yang bersabar ketika menghadapi kesulitan. Allah Subhanahu wa Ta’ala  berfirman :

“Dan orang-orang yang bersabar dalam menghadapi kesempitan an penderitaan ” . (QS. Al-Baqarah : 177).

Dalam ayat lain Allah berfirman :

” Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetapalah bersip siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah”. (QS. Ali Imran : 200).

Berbicara mengenai kesabaran perlu diisyaratkan kepada tiga jenis sabar yang sangat penting yaitu : sabar dalam mengerjakan ketaatan, sabar dalam meninggalkan maksiat dan sabar dalam menghadapi  musibah.

Jenis Pertama : Sabar dalam Mengerjakan Ketaatan

Agar seseorang bisa melaksanakan kewajiban-kewajiban dari Rabb-Nya maka ia harus memiliki bekal agar ia memiliki kekuatan mengerjakan ibadah-ibadah dan malaksanakan perintah-perintah, sekaligus menjadi senjata baginya untuk tetap istiqomah mengerjakan ketaatan kepada Allah Rabbul’alamin, agar tidak berhenti dan bosan, tetapi bersungguh-sungguh dan serius. Bekal yang paling baik dan senjata yang paling afdhal adalah kesabaran. Dengan kesabaran seseorang bisa beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala  dengan ibadah yang benar dengan menyempurnakan  syarat-syaratnya. Tanpa kesabaran seseorang tidak akan bisa menunaikan hak ubudiyah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala  dengan sempurna dalam pelaksanaan ibadah dan kewajiban-kewajibannya. Betapa banyak orang yang meninggalkan ketaatan dan jatuh dalam maksiat karena tidak memiliki bekal kesabaran. Allah berfirman :

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolong mu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk”. (QS.Al-Baqarah : 45).

Jenis Kedua : Sabar dalam Meninggalkan Kemaksiatan

Sebagaimana halnya seseorang dituntut untuk bersabar dalam mengerjakan ketaatan, demikian pula kesabaran di tuntut dalam meninggalkan maksiat dan larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala . sabar jenis ini adalah menahan jiwa dari mendekati hawa nafsu dan kelezatan yang Allah telah mengharamkan atas hamba-hamba-Nya untuk mendekati dan memanpaatkannya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah bersabda:

“Jannah diselimuti dengan perkara-perkara  yang dibenci sedangkan neraka diselimuti dengan perkara-perkara yang mengundang syahwat.” (Shohih Muslim no. 7130 hal.1288).

Memang perbuatan maksiat adalah hal-hal yang indah, lezat dan besesuaian dengan hawa nafsu dan sahwat, tetapi syariat islam mengharamkan itu semua. Maka seorang muslim harus bersabar untuk meninggalkannya karena keindahan dan kelezatannya tidak apa-apanya dibandingkan dengan keindahan dan kelezatan yang dijanjikan Allah Subhanahu wa Ta’ala  bagi orang-orang patuh dan tunduk pada aturan-Nya.

Jenis ketiga : Sabar dalam Menghadapi Musibah

Musibah yang di alami seseorang adalah takdir dari Allah Subhanahu wa Ta’ala . merupakan ujian dan cobaan bagi seorang hamba dalam mengharungi kehidupan dunia yang pana menuju kehidupan akhiat yang kekal abadi. Seseorang yang menyadari bahwa musibah ini merupakan takdir dari Allah Subhanahu wa Ta’ala  maka ia tidak akan menggerutu dan berputus asa terhadap musibah yang di alaminya. Bahkan sebaliknya ia akan bersabar dan sadar ini semuanya ujian dan cobaan dari yang Maha Kuasa. Karena perjalanan kehidupan manusia di dunia ini dalam rangka ujian bagi mereka dan siapa di antara mereka yang terbaik amalnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Yang menjadikan  mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Al-Mulk: 2).

Orang yang bersabar dalam menghadapi musibah yang dideritanya akan menghantarkannya kepada kehidupan yang sesungguhnya, yang di idam-idamkan setiap hamba yaitu  kebahagiaan yang abadi di negeri akhirat yang telah diperuntukkan bagi hamba-hamba yang shaleh. Yaitu hamba yang tidak memiliki persangkaan buruk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , apapun yang ditimpakan  kepadanya, ia terima dengan hati lapang dan tidak berputus asa.

Beruntunglah seorang muslim karena setiap urusannya baik dan kebaikan ini tidak diperoleh orang kapir. Sebagai mana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah  bersabda :

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya baik baginya dan kebaikan itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apa bila ia mendapat kesenangan ia bersyukur dan itulah  yang terbaik untuknya. Dan apabila mendapat musibah ia bersabar dan itulahyang terbaik untuknya.” (shahih muslim no. 7500 hal. 1295).

Dengan memahami hadits yang mulia ini setip muslim akan selamat hidupnya, tidak akan ditemui pada dirinya kegelisahan, kesedihan, kegocangan jiwa, putus asa, apalagi sampai menganiaya diri ketika ditimpa musibah. Kita bermohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala  agar menjadikan kita hamba-Nya yang bersyukur, bersabar dan ridha, sesungguhnya Dia Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan doa.

Shalaawat, salam dan keberkahan semoga terlimpah atas Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam, atas keluarga, shabat dan orang-orang yang mengikuti mereka sampai hari kemudian. Akhir kata Alhamdulillahirabbil’alamin

Diringkas dari buku “Sungguh Menakjubkan Urusan Seorang Mukmin” Karya Dr. Falih bin Muhammad bin Falih Ash-Shughayyir. Terbitan Daar  An-Naba’ surakarta.

Sumber : dareliman.or.id (Website Resmi Yayasan Dar el-Iman, Padang-Sumatra Barat)

 

Write a comment