Al-Qur’an dan Sunnah di Tangga Teratas

[[Seri 17] Mengungkap Kebenaran, Menindih Kebatilan]

Di atas pendapat, pandangan, pemikiran, perasaan, selera, dan akal.  Inilah ciri-ciri utama Ahlussunnah, di mata mereka, Al-Qur’an dan Sunnah di atas segalanya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

اتَّبِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ

Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya.” (QS. Al-A’raf: 3)

Juga firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Hujurat:1)

Dalam riwayat Muslim (1548), Rofi bin Khodij mengatakan:

كنا نحاقل الأرض على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم. فنكريها بالربع والثلث والطعام المسمى. فجائنا ذات بوم رجل من عمومتي. فقال: نهانا رسول الله صلى الله عليه وسلم عن أمر كان لنا نافعا. وطواعية الله ورسوله أنفع لنا. نهانا أن نحاقل بالأرض فنكريها بالثلث والربع والطعام المسمى. وأمر رب الأرض أن يزرعها أو يزرعها. وكره كرائها، وما سوى ذلك.

“Di zaman Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- Kami biasa menyerahkan penggarapan lahan (sawah) kepada orang lain, dan kami menyewakannya dengan pembayaran sepertiga atau seperempat dari hasil panen atau dengan makanan yang jelas takarannya.

Kemudian pada suatu hari, salah seorang dari pamanku mendatangiku seraya mengatakan: Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-  telah melarang kami,

  • untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya ada manfaatnya bagi kami,
  • akan tetapi taat kepada Alloh dan Rosul-Nya tetap lebih besar manfaatnya bagi kami,
  • beliau melarang kami untuk menyerahkan penggarapan tanah (sawah) kepada orang lain, lalu kami pungut upah sewanya, dari sepertiga atau seperempat hasil panen atau dari makanan yang jelas takarannya.

Beliau menyuruh tuan tanah untuk menanaminya sendiri, atau agar ditanami oleh saudaranya. Beliau melarang akad sewa lahan (sawah) atau akad sejenisnya.”

Disebutkan Ibnu Abidin dalam catatan kakinya (1/258), Abu Hanifah rahimahullah berkata,

إِذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَهُوَ مَذْهَبِي

“Kalau ada hadits shahih, maka itulah mazhabku.”

Hal senada diungkapan Imam Syafi’i sebagaimana disebutkan Ibnul Qayyim dalam I’lamul Muaqi’iin (2/282),

أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلىَ أَنَّ مَنِ اسْتَبَانَ لَهُ سُنَّةٌ عَنْ رَسُولِ اللهِ لَمْ يَحِلَّ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ

“Kaum muslimin sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya sebuah sunnah (ajaran) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tak halal baginya untuk meninggalkan sunnah itu karena mengikuti pendapat siapa pun.”

Beberap poin penting:

  • Wajib mengutamakan Al-Qur’an dan Sunnah di atas segalanya, di atas pendapat, pandangan, pemikiran yang menyimpang
  • Al-Qur’an dan Sunnah hakim atas segala pendapat, keyakinan, selera dll, bukan sebaliknya
  • Sepakat para ulama dan imam untuk membuang setiap ucapan yang menyelisihi Al-Qur’an dan Sunnah
  • Pemahaman ini merupakan syiar Ahlussunnah
  • Hujjah/ argumentasi itu Al-Qur’an dan Sunnah
  • Dilarang keras taklid kepada figur tertentu yang tidak berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan Sunnah
  • Wajib mengikuti dalil dan berpegang dengannya
  • Imam yang empat (Imam Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali) melarang taklid kepada mereka
  • Taklid kepada figur yang menyelisihi Al-Qur’an dan Sunnah termasuk menjadikan mereka wali (penolong) selain Allah

Sabtu, 8 October 2016

[Marwan AM, حفظه الله تعالى وغفر الله لوالديه]

 

 

 

Bagikan :

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*