Al-Wala’ (loyalitas) dan Al-Bara’ (berlepas diri) dalam 15 point.

Al-Wala’ (loyalitas) dan Al-Bara’ (berlepas diri) dalam 15 point.
(Kesimpulan dari kajian Ustadz. Abdullah Taslim, MA. حفظه الله تعالى di Lombok)
Mukaddimah
Alhamdulillah…Atas karuniaNya kita di atas kebenaran, kemudian karena usaha kita dan ustadz-ustadz kita, seperti Ustadz. Sofyan, Ustadz. Mizan, dan Ustadz. Mukti Ali. حفظهم الله
4
Tema: Al-Wala’ (loyalitas) dan Al-Bara’ (berlepas diri) dalam 15 point.
 
Pertama: Wala’ (loyalitas) dan Bara’ (berlepas diri), Tauhid yang selalu dibahas oleh para ulama di kitab-kitabnya, termasuk Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab Ushul Atsalatsahnya.
Kedua: Cinta karena Allah dan RasulNya, tolok ukur dalam setiap pergaulan, tentu dengan cara yang benar dan sesuai kadarnya.
Ketiga: Sikap Wala’ dan Bara’, demi Allah bukan berarti artinya bersikap ekstrim, menumpahkan darah, membunuh, Islam berlepas diri sikap seperti ini, termasuk bom bunuh diri. Semuanya sangat bertentangan dengan Wala’ dan Bara’. Justru mengajak manusia dengan cara yang benar dan lembut, walau kadang keras, cuma tetap dibawah koridor agama.
3
Keempat: Penjelasan tentang akidah Wala dan Bara’ harus terus ditekankan, supaya orang tidak berlebihan juga tidak lembek (siapa saja dianggap teman walaupun sesat). Karenanya terus diulang-ulang, untuk tujuan tersebut.
 
Kelima: Keimanan yang benar, akan mengubah manusia dalam keadaan tertentu, kapan harus lembut dan kapan harus keras, seperti sikap Abu Bakar radhiallahu anhu, beliau sering menangis saat mendengar/dibacakan Al-Qur’an (karena lembutnya hati beliau), namun sangat tegas saat memerangi orang yang menolak membayar zakat.
2
Keenam: Keliru orang yang mengatakan, belajar Tauhid, menjauhi syirik, termasuk wala’ dan bara’, akan melahirkan manusia ekstrim, ini adalah dusta, tidaklah apa yang mereka ucapkan kecuali dusta. Justru mempelajari semua itu akan membuat manusia berlemah lembut, karena hati diciptakan di atas fitroh, hanif, cenderung kepada tauhid dan menjauhkan syirik.
Sesungguhnya hati itu wadah, penampung, kalau tidak menampung tauhid, kebenaran dan kebaikan, maka akan menampung keburukan, syirik dan yang lainnya. Kalau sudah dipenuhi syirik, maka setan akan menjadikannya cinta keburukan yang dapat menjauhkannya dari tauhid yang merupakan dasar agama.
 
Ketujuh: Dengan mencintai Allah, pasti akan melahirkan cinta kepada selainnya karena Allah, seperti yang tersebut dalam hadist: Halawatul Iman. Kecintaan kepada Allah dijadikan perhiasan paling indah, paling manis, sehingga cinta pada yang lain lebih rendah. Ini konsekuensi / keuntungan dari beriman/bertauhid.
 
Kedelapan: Dengan belajar tauhid, kita akan dimudahkan Allah untuk bertauhid, semakin cinta kepada Allah, akan dibukakan hatinya untuk menerima keindahan Islam. Juga, dimudahkan baginya bergaul dengan manusia, dan terbiasa mencintai seseorang karena Allah.
 
Kesembilan: Mencintai selain Allah melampui batas akan membuat seseorang jauh dari cinta yang sebenarnya, yaitu cinta kepada Allah.
 
Kesepuluh: Mengikuti cara-cara khusus orang kafir, akan membuat tauhid luntur, dengan terbiasa mengikuti, melihat dan tidak mengingkari kemungkaran tersebut membuat kebencian kita terhadap kemungkaran tersebut berkurang. Malah mencari-cari alasan membela perbuatan tersebut.
 
Contohnya, menghadiri perayaan-perayaan orang musyrik, termasuk perayaan bid’ah, baik mengucapkan selamat atau yang lainnya.
 
Kesebelas: Ia mencintai karena Allah, benci karena Allah, semua karena Allah, maka sungguh dia telah menyempurnakan keimanannya.
 
Keduabelas: Ada orang-orang yang wajib kita cintai, seperti para nabi dan rasul, para sahabat. Ada orang-orang yang tidak pantas sama sekali kita cintai, seperti orang kafir, musyrik, dll, tetapi kita tetap mendakwahinya. Ada orang-orang yang kita cintai dan benci sesuai kadar iman/amal salehnya, tentu dengan tahapan-tahapan tertentu. Semua ini sikap dari wala’ dan bara’.
 
Ketigabelas: Hati itu lemah, hati-hati dengan syubhat, ia bisa menyambar hati. Termasuk, ketika kita ada teman baik, kadang-kadang kita malu menolak ajakannya untuk melakukan bid’ah.
Keempatbelas: Kaidah ulama: tidak ada perbedaan antara membicarakan/ kritik hadist dengan kita mengkritik orang-orang yang keliru dalam memahami nash, baik ayat maupun hadist, tentu tujuannya bukan menjatuhkan satu sama lain, tapi untuk membiasakan diri dalam Wala’ dan Bara’.
 
Kelimabelas: Kita harus terus melatih wala’ dan bara’ kita dengan melakukan semua yang kita kaji dan sebutakan di atas. Agar tauhid kita tetap kuat dan kokoh, terutama dalam sikap wala’ dan bara’.
 
Selasa, 16/02/2016
Marwan AM, حفظه الله تعالى
 
dari FP Pondok Pesantren Assunnah Lombok
Bagikan :

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*