Ayat-ayat Bahagia dalam Surat Al-Insyirah

Pertama: Kebahagiaan di tangan Allah, dari firmanNya [Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu] Dia-lah yang melapangkan dada, bukan yang lain. Kebahagiaan merupakan makhluk dari makhluk-makhlukNya, Allah menganugrahkan siapa saja yang dihendaki, dan mencabutnya dari siapa saja yang dibenci.

Kedua: Kebahagiaan di hati bukan di pikiran, dari firmanNya [untukmu dadamu], hati dalam genggaman Allah, Dia-lah yang mampu membolak-balikkannya, dan damainya hati bersumber dari ketaatan.

“Jika seorang hamba melakukan dosa, ada titik hitam di hatinya, bila bertaubat maka terlepaslah noda itu,” Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ketiga: Penebus dosa, dari firmanNya [dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu]. Setiap kali dosa berkurang, maka kebahagiaan makin dekat,  Al-Qur’an menyebut dosa sebagai beban yang nyaris meretakkan punggung, [yang memberatkan punggungmu]. Pelebur dosa adalah: taubat, istigfar, ibadah dan berbuat kebajikan.

Keempat: Melambungkan nama baik, dari firmanNya [Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu]. Pamor yang baik akan mendatangkan apresiasi berupa doa, pujian, pengakuan dari orang lain, dari firmanNya [Dan Kami tinggikan]. Pamor yang baik itu anugrah bukan diminta, maka untuk mendapatkannya tidak dengan cara berpura-pura tapi dengan ikhlas beribadah kepada Allah Azza wa Jalla.

Kelima: Allah tidak menciptkan kesulitan tanpa kemudahan, dari firmanNya [Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan]. Ketika seseorang mengetahui bahwa Allah tidak menciptakan kesulitan tanpa kemudahan, masalah tanpa solusi, kegundahan tanpa jalan keluar, kesempitan tanpa kelapangan, hal ini pasti mampu menyingkirkan kesedihannya, sebab dia yakin pasti ada solusi, hanya saja berusaha untuk mendapatkannya.

Keenam: Kemudahan datang saat kesempitan melanda, dari firmanNya [Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan], tidak menyebutkan sesudah kesulitan ada kemudahan, maka sejak kesulitan, masalah, kegundahan mendera, kemudahan Allah datang menyelesaikannya. Sebagai contoh, musibah mendera termasuk pelebur dosa, di mana dosa merupakan biang timbulnya masalah dan kegundahan. Demikian kemudahan Allah bekerja, hingga kegundahan larut, kesempitan menjadi lapang dan kesulitan menyingkir.

Ketujuh: Setiap satu kesulitan bersama dua kemudahan, diulang secara nakirah (umum) 2 kali menunjukkan demikian. Maka para ulama salaf mengatakan, “Demi Allah, satu kesulitan mustahil mengalahkan dua kemudahan.”

Kedelapan: Memanfaatkan kekosongan di antara sumber kebahagiaan, dari firmanNya [Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan)]. Pada ayat ini, tersirat larangan mengganggur. Dalam riwayat Bukhari, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.”

Kesembilan: Ibadah, dari firmanNya [kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain], yakni ketaatan, ibadah, sebab ibadah merupakan gerbang kebahagiaan yang besar, acapkali ibadah bertambah, bertambah pula kebahagiaan. Di antara ucapan terkenal Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahihamahullah adalah: “Barangsiapa mengharap kebahagiaan yang kekal, maka hendaknya tetap berpegang pada palang ibadah.”

Kesepuluh: Ikhlas mengharapkan segala keinginan kepada Allah semata, dari firmanNya [dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap], mampu merealisasikannya merupakan akhir  yang hebat.

Sumber: https://ar.beta.islamway.net/article/45931/أصول-السعادة-العشرة-في-سورة-الشرح

Dasbo Street, Kamis, 19/1/2017

[Marwan AM, Lc حفظه الله تعالى وغفر الله له ولوالديه]

Bagikan :

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*