Bagai Dua Sisi Mata Uang, Al-Qur’an dan Sunnah Tidak Bisa Dipisahkan

[[Seri 2] Mengungkap Kebenaran, Menindih Kebatilan]

Allah Ta’ala berfirman :

وَأَنَّ هَـذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah jalan tersebut, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) , karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa“ (Al An’am:153).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ‘Irbadh bin Sariyah,

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ، تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِانَّوَاجِذِ، وَ إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ؛ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٌ ضَلاَلَةٌ

Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang tetap hidup (setelah kematianku –pen), niscaya akan menyaksikan banyak perselisihan. Maka, berpegang teguhlah kalian dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin yang memperoleh petunjuk dan berilmu.

Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian, serta berhati-hatilah terhadap perkara-perkara baru yang dibuat-buat. Sungguh, setiap perkara baru yang dibuat-buat adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat!  [HR: Abu Daud, 4607 ]

Ibnu Rajab al-Hambali yang wafat  tahun 795 H berkata:

السنة هي الطريق المسلوك؛ فيشمل ذلك التمسك بما كان عليه النبي صلى الله عليه وسلم وخلفاؤه الراشدون، من الاعتقادات والأعمال والأقوال، وهذه هي السنة الكاملة، ولهذا كان السلف قديمًا لا يطلقون السنة إلاّ على ما يشمل ذلك كله.( جامع العلوم والحكم ص 262

As-Sunnah ialah jalan yang ditempuh, mencakup di dalamnya berpegang teguh kepada apa yang dilaksanakan Nabi dan para khalifahnya yang terpimpin dan lurus berupa i’tiqad (keyakinan), perkataan dan perbuatan.

Itulah As-Sunnah yang sempurna. Oleh karena itu generasi Salaf terdahulu tidak me¬namakan As-Sunnah kecuali kepada apa Baja yang mencakup ketiga aspek tersebut.

Ibnu Hazm yang lahir di Kota Cordoba  tahun 384 H ketika ditanya; “Siapakah yang dimaksud dengan golongan Ahlus-sunnah?” beliau mengatakan;

وأهل السنة الذين نذكرهم أهل الحق، ومن عداهم فأهل البدعة؛ فإنهم الصحابة رضي الله عنهم، وكل من سلك نهجهم من خيار التابعين، ثم أصحاب الحديث ومن اتبعهم من الفقهاء جيلاً فجيلاً إلى يومنا هذا، ومن اقتدى بهم من العوام في شرق الأرض وغربها رحمة الله عليهم. (الفصل لابن حزم (2/271

Pengikut kebenaran dan siapa yang berbeda dengan mereka maka disebut sebagai ahlu-bidáh, mereka (golongan Ahlus-Sunnah) itu adalah para sahabat Rasulullah dan siapa yang berjalan sesuai dengan yang mereka contohkan yaitu dari sebaik-baik golongan tabiín.

Kemudian para ahli hadits serta yang mengikuti mereka dari para ulama ahli fiqih dari generasi ke generasi sampai di masa kita saat ini, begitu juga siapa saja yang mengikuti mereka dari orang-orang awam di belahan Timur dan Barat”.

Beberapa poin penting:

  • Sunnah merupakan cara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berucap dan berbuat
  • Amalan para sahabat radhiallahu ‘anhum terhitung sebagai Sunnah
  • Ahlusunnah adalah mereka yang mencukupkan diri dengan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan Sunnah para sahabatnya radhiallahu ‘anum, baik ushul maupun furu’
  • Bagai dua sisi mata uang, Al-Qur’an dan Sunnah tidak bisa dipisahkan

 

Ahad, 18 September 2016

[Marwan AM, Lc حفظه الله تعالى وغفر الله لوالديه]

YOU MAY ALSO LIKE…

Bagikan :

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*