Bagaikan Begal

Islam tidak melarang untuk bergaul, juga tidak melarang untuk berteman, sebaliknya dianjurkan hidup bergandengan. Sebagai makhluk sosial, tanpa teman hidup bakal terasa asing, kering dan garing. Namun demikian, Islam mengatur cara bergaul dan berteman.

Nah, salah satu aturannya adalah harus berteman dengan teman yang shalih. Kenapa? Sebab teman yang buruk tak ubahnya begal, bahkan lebih kejam daripada begal.  Kalau begal merapas harta, perhiasan dan berlian permata, maka teman yang buruk merampas iman, tauhid dan ibadah.

Gayanya sama, teman yang buruk selalu berusaha menjadi pencegat antara Anda dengan Rabb. Setiap kali Anda ingin meniti jalan menuju Allah, ia selalu ada untuk membegal.  Ia tidak ingin Anda mendapat hidayah, tidak pula ingin Anda meniti jalan menuju Allah, ia bakal selalu menjadi penghalang. Semisal Anda ingin sholat, ia bakal berusaha untuk membuat Anda menundanya, bahkan hingga meninggalkannya. Demikian pula dengan amal ibadah-ibadah yang lainnya.

Ia ingin Anda bengkok sementara Allah ingin Anda lurus, ia ingin Anda di jalan yang salah sementara Allah ingin Anda di jalan yang benar, ia ingin Anda berkubang maksiat sementara Allah ingin Anda di atas ketaatan, ia ingin Anda dalam kegelapan sementara Allah ingin Anda di atas cahaya. Itulah sepak terjang teman yang buruk, dari pengalaman Anda tentu mafhum ciri-cirinya.

Hingga seorang peyair menguntai:

Jika harus berteman, pilihlah yang terbaik

Jangan sekali-kali dengan yang buruk, maka juga Anda pasti  ikut buruk

Berteman dengan pelaku dan penggemar maksiat, alamat bakal binasa. Terkait hal ini, dalam sebuah hadist, Nabi shallallahu ‘alaihi wasllam  memberikan perumpamaan yang indah.

Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَثَلُ الْجَلِيسِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً

Permisalan teman yang baik ibarat seorang penjual minyak wangi dan Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya.”

Artinya, kalau pun Anda belum menjadi sebaik teman Anda, setidaknya Anda akan terpikat dan terpengaruh menjadi baik, minimal Anda mendapatkan citra yang harum, dipandang dan dinilai baik oleh orang lain. Tidak mungkin sebaliknya, sebab orang melihat teman Anda. Jelasnya, Anda tidak mungkin dicap buruk bila disaksikan selalu bersanding bersama orang-orang shalih.

Kemudian kata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَثَلُ الْجَلِيسِ السَّوْءِ كنَافِخِ الْكِيرِ ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Artinya, kalaupun Anda belum menjadi seburuk teman Anda, setidaknya akan terbawa dan terseret arus keburukannya, minimal Anda akan mendapatkan citra yang rusak, dipandang dan dinilai buruk oleh orang lain. Tidak mungkin sebaliknya, sebab orang melihat teman Anda. Jelasnya, Anda tidak mungkin dicap shalih bila ditengok selalu nongkrong bersama orang-orang bejat.

Bahaya teman buruk, sejarah telah mencatat ribuan kisah dengan tinta hitam. Akibat begal yang satu ini, tak sedikit di antara mereka yang hancur dan binasa, hingga keluar dari agamnya dan mati di atas kesesatan dan kekufuran. Itulah mengapa Nabi shallallahu ‘alaihi wsallam mewanti-wanti dalam hadist mulianya, dalam riwayat Abu Daud:

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.”

Rabu, 6 October 2016

[Marwan AM, Lc حفظه الله تعالى وغفر الله لوالديه]

Bagikan :

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*