Beda Tauhid dengan yang Lain (Bag.1)

Tauhid yang merupakan dakwah seluruh rasul ternyata memiliki level berbeda dibanding syariat yang lain. Urusan agama, ia berada di tangga teratas. Ada sejumlah keutamaan dan spesialitas yang menjadikannya  terdepan untuk diketahui-yakini atas syariat-syariat Islam yang lain.

Dari sejumlah keutamaan tersebut, sedikitnya akan kami sebutkan 10 di antaranya.

Pertama: Untuknya manusia diciptakan dan dilahirkan di dunia

Terkait hal ini, dalam surat Az-Zariyat, ayat 56, Allah mengatakan:

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Dengan ungkapan lain, manusia tidak diciptakan tanpa konsekuensi, atau diciptakan sia-sia lalu dibiarkan hidup begitu saja, namun, tidaklah mereka diciptakan dan dilahirkan di muka bumi kecuali untuk tauhid.

Kedua: Untuknya para nabi dan rasul diutus

Sejak dulu hingga nabi terakhir, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, tak ada nabi dan rasul yang diutus kecuali ditugaskan untuk mengajak kepada tauhid sebelum syariat yang lain. Dalam surat An-Nahl, ayat 36, Allah mengungkapkan,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجْتَنِبُوا۟ ٱلطَّٰغُوتَ

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”,”.

Juga firman Allah dalam surat  Al-Ahqaf, ayat 21,

وَٱذْكُرْ أَخَا عَادٍ إِذْ أَنذَرَ قَوْمَهُۥ بِٱلْأَحْقَافِ وَقَدْ خَلَتِ ٱلنُّذُرُ مِنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِۦٓ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّا ٱللَّهَ إِنِّىٓ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

“Dan ingatlah (Hud) saudara kaum ‘Aad yaitu ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al Ahqaaf dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan): “Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar.”

Seluruh nabi dan rasul satu suara menyatakan bahwa keberadaan mereka di hadapan kaumnya masing-masing untuk tujuan yang sama, yakni “Janganlah kamu menyembah selain Allah”.

Maka tak aneh bila setiap kalimat yang terlontar dan pertama terdengar di telinga kaum-kaum terdahulu dari para nabi mereka adalah tauhid. Pasalnya, tauhid merupakan pondasi tempat berdirinya tiang-tiang agama yang lain.

Dalam surat Ibrahim, ayat 24, Allah mengumpamakan,

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِى ٱلسَّمَآءِ

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.”

Agama tak ubahnya seperti sebuah pohon, di mana, pohon mempunyai akar dan cabang, dan pohon tidak akan tegak kecuali dengan akar yang kuat, maka demikian halnya agama, ia tidak akan pernah tegak dan lurus kecuali dengan pondasi yang kuat, dalam hal ini adalah tauhid.

Sebagaimana pohon, bila akarnya dipotong  pasti akan tumbang, maka demikian pula agama, tanpa tauhid tiang-tiang agama yang lain pasti bakal roboh alias tak bermanfaat. Maka posisi tauhid dalam agama, sebagaimana posisi akar pada pohon dan posisi pondasi pada bangunan.

Di antara hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyatakan bersatu-padunya para nabi dan rasul dalam dakwah tauhid, yakni sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dalam riwayat Muslim:

الأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ مِنْ عَلاَّتٍ وَأُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ فَلَيْسَ بَيْنَنَا نَبِىٌّ

“Para nabi itu adalah saudara seayah walau ibu mereka berlainan, dan agama mereka adalah satu. Dan tidak ada di antara kita (antara Nabi Muhammad dan Nabi Isa) seorang nabi.”

Hadist yang mulia ini menegaskan, bahwa seluruh nabi dan rasul selain akidahnya sama, juga semuanya mengawali dakwahnya dengan tauhid kepada Allah kendati mereka dilahirkan dari rahim yang berbeda-beda dan diutus membawa syariat yang tidak sama.

Ketiga: Tauhid kewajiban pertama untuk setiap mukallaf dan orang yang baru masuk Islam

Selain itu, tauhid juga kewajiban pertama untuk didakwahkan. Cukup banyak dalil, baik dari Al-Qur’an maupun hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan demikian. Di antaranya, dalam riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi bersabda,

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah.”

Juga dalam riwayat Bukhari, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan kepad Muadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu.

إنك تقدم على قوم من أهل الكتاب، فليكن أول ما تدعوهم إلى أن يوحِّدوا الله تعالى، فإذا عرفوا ذلك فأخبرهم أن الله فرض عليهم خمس صلوات في يومهم وليلتهم.

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab, maka hendaknya yang pertama kali engkau seru mereka kepadanya adalah agar mereka mentauhidkan Alloh ta’ala. Maka jika mereka telah mengetahui itu, maka kabari mereka bahwasanya Alloh mewajibkan mereka lima sholat di siang dan malam mereka…”

Keempat: Tauhid faktor utama untuk keselamatan dunia dan akhirat

Terkait hal ini, bisa ditengok dalam firman Allah, surat Al-An’am, ayat 82

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَلَمْ يَلْبِسُوٓا۟ إِيمَٰنَهُم بِظُلْمٍ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Keselamatan ada di tangan Allah, hanya Dia yang berhak menentukan siapa yang pantas menyandangnya, dan tidak akan diberikan kecuali untuk orang-orang yang bertahuid, orang-orang yang mengikhlaskan ibadah hanya semata untukNya.

Dalam sebuah hadist yang sahih, saat ayat ini diurunkan, terasa berat bagi para sahabat, sebab bila demikian adanya tak ada yang luput dari kezaliman.  Mereka pun mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasllam guna menanyakan maksudnya.

“Wahai Rasulullah! Siapakah di antara kami yang belum pernah menzalimi dirinya?

Maksudnya, tidak ada di antara kami kecuali pernah berbuat zalim pada dirinnya, sedang Allah mengatakan, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Bila demikian, berarti  tak ada kesempatan bagi setiap orang untuk mendapatkan petunjuk dan keselamatan, sebab tak ada yang tak pernah menzalimi dirinya sendiri.

Mendengar keluhan para sahabat, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “Bukan demikian maksud juga tafsirnya, tidakkah kalian pernah membaca ucapan seorang hamba yang saleh, Lukman Al-Hakim,

إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (QS: Luqman: 13)

‘Kezaliman’ dalam ayat ini adalah perbuatan syirik,” jelas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menafsirkan maksudnya.

Dengan ayat ini, maka siapapun yang beriman lantas tidak mengotori imannya  dengan syirik, baginya kemanan dan keselamatan. Dengan kata lain, barangsiapa yang bertauhid, pasti bakal diberikan keamanan, petunjuk, dan keselamatan di dunia dan akhirat.

Kelima: Tauhid menghilangkan goncangan dan perselisihan

Berbeda dengan tauhid, keyakinan agama lain kerap mengalami  crash, goncangan, tergerus, dan dilanda pertentangan berupa benturan antara satu keyakinan dengan keyakinan lain dalam sanubari pemeluknya.

Dalam surat An-Nisa’, ayat 82, Allah mengungkapkan,

وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُوا۟ فِيهِ ٱخْتِلَٰفًا كَثِيرًا

“Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”

Dengan firman Allah ini, keyakinan produk manusia berani dipastikan tidak akan pernah selamat dari hal-hal di atas, bakal saling hantam satu sama lain, di mana pasti mengalami pasang surut dan perombakan.  Adapun iman, tauhid yang benar, yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, dijamin bakal terhindar dari segala goncangan, badai dalam jiwa manusia, dan tidak akan mengalami benturan.

Bersambung…

Di ruang sore, Dasbo Street, Ahad, 25/12/2016

[Marwan AM, Lc, حفظه الله تعالى وغفر الله له ولوالديه]

Bagikan :

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*