Dari Abu Abbas, Satu Resep Agar Disegani dan Disenangi Santri

Di mata santri, sikap guru terhadap mereka amat menentukan perilaku mereka terhadap guru. Karenanya, pada rapat paripurna, Abu Abbas hafidzahullah yang dinobatkan sebagai pemberi taujih dan nasihat, Kamis (07/04) lalu, menawarkan satu resep agar disegani dan disenangi santri.

Santri Pondok Assunnah Lombok

Dalam taujihnya yang bertema,“Santri Kita Gudang Pahala Kita” yang juga merupakan tajuk rapat, Ustadz yang berasal dari Batu Belek, Aikmel, Lombok Timur itu kembali mengingatkan akan pentingnya ikhlas dalam mendidik. Sebab, katanya, ilmu yang mulai hilang dan akan lenyap di muka bumi ini adalah ilmu ikhlas.

Sebelumnya, ia mengungkapkan rasa syukur dan terima kasihnya kepada ustadz-ustadz yang dulu bahkan pernah mengajarnya Bahasa Arab, karena dengan ilmu itu, akunya, sebab ia bisa seperti sekarang. Ia pun bertekad akan tetap memelihara rasa syukur dan terima kasih tersebut, dan akan selalu berusaha demikian.

Masjid Fauzan - Lotim


Ilmu ikhlas, jelas Alumnus Universitas Islam Madinah itu, akan hilang dari hati-hati manusia. “Kelak sulit kita akan menemukan ikhlas, kecuali di lipatan kitab-kitab,” ungkapnya.

Terkait keutamaan mendidik, mengayomi, mengajar santri, tidak ada orang yang pertama meraih ganjarannya kecuali guru. “Karena siapakah yang pertama kali akan mendapatkan ajaran kita?” tanyanya menarik perhatian para guru yang ada di hadapannya. Allah Azza wa Jalla befirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” [Surat Fussilat: 33]

Dalam hadist yang kita semua telah hapal,

وَ اللهُ فىِ عَوْنِ اْلعَبْدِ مَا كَانَ اْلعَبْدُ فىِ عَوْنِ أَخِيْهِ

“Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya”. (HR: Muslim)

Menurutnya, dari hadist ini, membantu anak-anak kita untuk sukses, sama dengan membantu diri kita. Juga di sini kita tahu ternyata kita akan meraih pahala besar dari anak-anak tersebut, jika kita pandai ikhlas karena Allah. Tentu anak-anak ini kelak akan menjaga agama ini, ketika kita sudah tua.

Dulu, tutur beliau, saat kita menjadi santri/siswa, baik saat SD, SMP, maupun SMA banyak harapan yang kita gantungkan kepada ustadz-ustadz kita. Kita ingin mereka seperti ini dan itu, ingin diberi perhatian, diperlakukan dan dijaga dengan baik, ingin diajarkan ilmu ini dan itu.

Persis dengan firman Allah:

كَذَٰلِكَ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا

“Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah.” [Surat An-Nisa: 94]

“Nah, apa yang antum harapkan dulu berikanlah mereka sekarang,” sarannya sembari menambhakan dulu ketika para doktor di Universitas Islamiah menyulitkan, para ulama mengingatkan mereka dengan ayat ini.

Satu hal yang sangat penting, ungkapnya,

ﻻ تكن حلوا فتسترط، وﻻ مرا فتعقى

“Jangan terlalu manis hingga engkau ditelan mentah-mentah, dan jangan terlalu pahit hingga orang memuntahkanmu.”

Maksudnya, saat bergaul dengan santri jangan terlalu dekat, saking dekatnya segala keinginannya dipenuhi, tanpa menjaga jarak hingga tak disegani. Juga jangan bengis hingga membuat mereka dendam, marah, hingga menjauh dari kita.

“Jadilah ummat pertengahan. Mereka masih hijau, datang jauh-jauh, siap diajarkan. Semangat-semangatlah, serius-seriuslah,” tutupnya.

Kantor Mudir, 11/04/2016

Marwan AM, حفظه الله تعالى

Bagikan :

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*