Di Atas Kebenaran Dulu Baru Bersabar

Bila akal dan pikiran seseorang mengalami distorsi bin error, jiwa kemanusiaannya sudah hanyut terbawa arus, ia akan memandang apapun boleh dihancurkan, membunuh orang yang tak bersalah, membuat ketakutan dan terror, merusak kesepakatan dan mengingkari perjanjian, kemudian semua itu dianggap merupakan agama Allah yang dibawa oleh rasulNya. Tentu yang meyakini pandangan serupa ini tidak lebih kecuali duri dalam daging yang harus dicabut.

“Saya pernah menyaksikan orang sesat berwasiat kepada saudaranya yang juga salah jalan, mengatakan, ‘Bersabarlah atas gangguan manusia yang tidak sepakat denganmu, jangan hiraukan tantangan yang kauhadapi di jalan yang tengah kaupegang, ketahuilah engkau pasti mendapatkan pahala sebesar ujian dan cobaan yang kauterima,’” tutur Syaikh Muhammad dalam artikelnya.

Subhanallah, kata Syaikh yang bernama lengkap Muhammad Al-Jazlani, tidakkah pernah terlintas di benak kedua orang tersebut bahwa mereka di dalam kesesatan bukan di atas kebenaran? Tidakkah mereka berfikir, menggunakan kedua akal dan kedua telinganya untuk mencari jalan yang benar, jalan yang pantas untuk bersabar di atasnya dari gangguan?

Kemudian saya menghayati firman Allah yang mengabarkan akan kehancuran manusia dan kerugian yang dialami, lalu dikecualikan di antara mereka, yakni “orang-orang yang saling nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. al-’Ashr: 3).

Di sini, Allah menyebut di atas kebenaran dulu baru kemudian bersabar. Sebab bersabar di atas kebatilan akan melahirkan kehancuran, kerugian dan neraka. Allah berfirman, “Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka), diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas. (QS: Al-Gasyiyah:2-5)

Di kesempatan lain, cerita Syaikh yang dulunya beprofesi sebagai Hakim ini, saya teringat sebuah tayangan yang ditayangkan TV Yaman mengenai salah seorang dari kelompok sesat, di mana, disebutkan ia melakukan bom bunuh diri di tengah pesta tentara Yaman yang dihadiri ribuan rakyat muslim. Akibat ulahnya, ratusan orang tewas dan ribuan mengalami luka-luka.

Yang mengherankan, terekam dalam sebuah kamera, sebelum melakukan aksi biadabnya ia sempat membaca wasiat sesatnya, celakanya wasiat tersebut dibumbui agar bertakwa kepada Allah. “Ya, demikian keyakinan yang dimain-mainkan oleh setan, keyakinan yang dikepung kesesatan dari segala arah, keyakinan yang sampah pun berlepas diri darinya sebelum manusia yang menggunakan akalnya,” tukasnya

Sungguh membingungkan, ia berwasiat, sementara berniat untuk menumpahkan darah orang-orang yang tidak bersalah yang diharamkan untuk diganggu dan diperintahkan untuk dijaga, merusak di muka bumi yang dititahkan untuk dipelihara dan dilestarikan dan melumat orang-orang yang tak berdosa yang diharamkan untuk diteteskan darahnya, lantas berwasiat agar bertakwa kepada Allah!!

“Sunnguh tujuan yang sesat, akal yang benar-benar error, menyimpang dari fitrah, lalu mengira diri di atas kebenaran, tidaklah kecuali mereka para pendusta,” tukas Syaikh yang juga sebagai pengacara itu

Menurutnya, keyakinan serupa ini merupakan benih kesesatan yang tidak boleh dienteng-remehkan, bahkan mungkin lebih berbahaya bagi Islam dan kaum muslimin daripada orang-orang kafir dan komunis. Sebab, bila orang kafir atau komunis jelas kesesatannya dan tahu cara membendungnya, kejahatannya mudah dideteksi juga tidak gampang memalingkan dari agama, sebaliknya, orang-orang yang sesat seperti mereka bak musuh dalam selimut.

Fitnahnya lebih kejam daripada pembunuhan, maksudnya fitnah memalingkan manusia dari agama Allah, sebab tampaknya membela Islam, di bawah bendera agama, namun hakikatnya di dalam kesesatan.

Sesungguhnya prinsip-prinsip yang dibangun oleh agama nan agung ini melalui lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam amat terang dan jelas, tertera dalam sebuah hadist mulia yang dibawakan Ali radhiallahu ‘anhu:

الْمُؤْمِنُونَ تَكَافَأُ دِمَاؤُهُمْ، وَهُمْ يَدٌ عَلَى مَنْ سِوَاهُمْ، وَيَسْعَى بِذِمَّتِهِمْ أَدْنَاهُمْ، أَلَا لَا يُقْتَلُ مُؤْمِنٌ بِكَافِرٍ، وَلَا ذُو عَهْدٍ فِي عَهْدِهِ، مَنْ أَحْدَثَ حَدَثًا، أَوْ آوَى مُحْدِثًا، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Orang-orang mukmin sederajat dalam darah mereka. Mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, di mana orang-orang yang paling rendah dari kalangan mereka berjalan dengan jaminan keamanan mereka.

Ketahuilah, tidak boleh dibunuh seorang mukmin karena membunuh orang kafir. Tidak pula karena membunuh orang kafir yang punya perjanjian dengan kaum muslimin.

Barangsiapa mengada-adakan sesuatu yang baru (dalam agama) atau melindungi orang yang jahat, maka laknat Allah atasnya, laknat para malaikat dan manusia seluruhnya.” [Al-Musnad, 1/122; shahih].

Selain itu, di antara prinsip yang juga dibangun oleh Islam adalah bahwa membunuh dengan cara licik hukumnya haram hingga meskipun yang dibunuh orang-orang musyrik, siapapun tidak boleh dibunuh kecuali dalam peperangan, dan yang pantas dibunuh adalah yang melawan. Adapun yang berlepas diri, tidak boleh dihabisi nyawanya. Ini wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasllam yang selalu dibisiki kepada pasukan yang diutus untuk berperang, demikian pula yang dilakukan para khulafa Arroshidun setelah beliau.

Islam, seperti diketahui merupakan agama yang rahmat, agama yang adil, dan agama yang menjunjung tinggi kebenaran, bukan agama yang kejam lagi batil. Maka amat tidak mungkin seseorang mengklaim dirinya mengajak manusia kepada agama dengan cara-cara kekerasaan, paksaan dan pengeboman. Juga amat mustahil seseorang mengajak manusia berpegang dengan agama dengan mencaci, melaknat, memfasikkan dan mengkafirkan.

Mereka yang haram darah dan kehormatannya diganggu karena syahadat Laa Ilaaha Illallah yang telah diikrarkan tidak boleh dibunuh kecuali  dengan cara yang hak seperti qisos, dan harus dilakukan oleh hakim, bukan main hakim sendiri.

“Sebelum mewasiatkan dirinya atau orang lain untuk bersabar dan teguh di atas sebuah pandangan, manhaj, atau keyakinan, seseorang terlebih dahulu harus memastikan bahwa pandangan atau keyakinan tersebut di atas kebenaran, ia harus berusaha sekuat tenaga untuk mencari tahu kebenarannya, tidak gampang menyerahkan akal pada sembarang orang, kecuali pada orang yang mengajak kepada Allah dengan ilmu yang berpijak pada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman yang sahih,” ujar Syaikh Muhammad.

“Apabila mengalami kerancuan, mengalami kebingungan dalam pikirannya, yang pertama harus dilakukan adalah berhenti dan berhati-hati, tidak meneruskan langkahnya. Sebab menumpahkan darah manusia dan mencabik kehormatannya amat sangat diharamkan oleh Allah. Rasululullah juga dalam setiap pagelaran hari agung Islam, seperti idul adha, hari arafah dan yang lainnya berulangkali mengingatkan untuk menjunjung tinggi perkara ini,” pesan mantan hakim pidana yang kini aktif menulis itu

Kita memohon kepada Allah agar tidak menyesatkan akal kita, sebaliknya, menyelamatkan yang tengah tersesat, dan menjaga tangan kita agar tidak kotor dengan darah kaum muslimin dan kehormatan mereka…

Tidak ada taufik kecuali dari Allah, hanya padaNya kita berserah diri, Allah Yang Maha Mulia yang memiliki arsy

Sumber: http://www.alriyadh.com/752681

Di ruang subuh, Dasbo Street, Ahad, 1/1/17

[Marwan AM, Lc حفظه الله تعالى وغفر الله له ولوالديه]

Bagikan :

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*