Hampir Saja Kalian akan Dihujani Batu dari Langit

[[Seri 21] Mengungkap Kebenaran, Menindih Kebatilan]

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An-Nur: 63)

Dalam riwayat Bukhari (6910), Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata,

اقْتَتَلَتِ امْرَأَتَانِ مِنْ هُذَيْلٍ فَرَمَتْ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى بِحَجَرٍ، فَقَتَلَتْهَا وَمَا فِي بَطْنِهَا، فَاخْتَصَمُوا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَّ دِيَةَ جَنِينِهَا غُرَّةٌ عَبْدٌ أَوْ وَلِيدَةٌ، وَقَضَى بِدِيَةِ الْمَرْأَةِ عَلَى عَاقِلَتِهَا وَوَرَّثَهَا وَلَدَهَا وَمَنْ مَعَهُمْ، فَقَالَ حَمَلُ بْنُ النَّابِغَةِ الْهُذَلِيُّ: يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ أَغْرَمُ مَنْ لَا شَرِبَ وَلَا أَكَلَ وَلَا نَطَقَ وَلَا اسْتَهَلَّ فَمِثْلُ ذَلِكَ يُطَلُّ؟، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَا هَذَا مِنْ إِخْوَانِ الْكُهَّانِ مِنْ أَجْلِ سَجْعِهِ الَّذِي سَجَعَ

“ Ada dua orang wanita yang saling bunuh dari suku Hudzail. Salah seorang diantara keduanya melempari batu kepada yang lain sehingga membunuhnya dan janin yang ada di perutnya.

Maka mereka memperkarakannya ke hadapan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memutuskan diyat bagi janinnya denda berupa budak laki-laki atau budak perempuan.

Dan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun memutuskan diyat yang wanita terbunuh itu dibebankan kepada keluarga wanita pembunuh dan mewariskannya kepada anaknya dan keluarga yang bersama mereka.

Hamal bin An-Naabighah Al-Hudzaliy berkata : “Wahai Rasulullah, bagaimana bisa aku menanggung denda orang yang tidak bisa minum, tidak bisa makan, tidak bisa berbicara, dan tidak bisa menangis ?. Maka yang semisal itu dibatalkan saja”.

Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Orang ini hanyalah saudaranya para dukun” – dengan sebab sajaknya yang ia katakana.”

 

Dalam riwayat Ahmad (1/337), Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata,

يُوْشِكُ أَنْ تَنْزِلَ عَلَيكُْم ْحِجَارَةٌ مِنَ السَّمَاءِ, أَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ وَتَقُوْلُوْنَ: قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ وَعُمَر

“Hampir saja kalian akan dihujani batu dari langit. Aku katakan: Rasulullah bersabda demikian lantas kalian membantahnya: Tapi Abu Bakar dan Umar berkata demikian?!”

Disebutkan dalam riwayat  Ad-Daarimiy ( 443), Abul-Mukhaariq berkata,

ذَكَرَ عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” نَهَى عَنْ دِرْهَمَيْنِ بِدِرْهَمٍ “، فَقَالَ فُلَانٌ: مَا أَرَى بِهَذَا بَأْسًا، يَدًا بِيَدٍ، فَقَالَ عُبَادَةُ: أَقُولُ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَقُولُ: لَا أَرَى بِهِ بَأْسًا، وَاللَّهِ لَا يُظِلُّنِي وَإِيَّاكَ سَقْفٌ أَبَدًا

“Ubadah bin Ash-Shaamit radliyallaahu ‘anhu pernah menyebutkan bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang dua dirham ditukar dengan satu dirham”.

 Lalu Si Fulan berkata : “Aku berpendapat itu tidak mengapa, asalkan cash tangan dengan tangan”.

Maka Ubadah berkata : “Aku berkata ‘telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam’ dan engkau malah berkata : ‘aku berpandapat itu tidak mengapa’.

Demi Allah, aku dan engkau tidak akan pernah berada satu atap selama-lamanya (karenanya).”

Dinarasikan oleh Ibnu Majah (485), Abu Hurairah berkata,

تَوَضَّئُوا مِمَّا غَيَّرَتِ النَّارُ “، فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ أَتَوَضَّأُ مِنَ الْحَمِيمِ؟ فَقَالَ لَهُ: يَا ابْنَ أَخِي إِذَا سَمِعْتَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدِيثًا فَلَا تَضْرِبْ لَهُ الْأَمْثَالَ

“Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernha bersabda : “Berwudlulah karena makan sesuatu yang dimasak oleh api”. Ibnu ‘Abbaas berkata : “Apakah mesti juga berwudlu karena minum air panas?”

Maka Abu Hurairah berkata : “Wahai anak saudaraku, apabila engkau mendengar hadits dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka jangan engkau buat permisalan-permisalan.”

Dalam riwayat Ad-Daarimiy (443), Qataadah radhiallahu ‘anhu berkata,  

 حَدَّثَ ابْنُ سِيرِينَ رَجُلًا بِحَدِيثٍ، عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَجُلٌ: قَالَ فُلَانٌ: كَذَا وَكَذَا، فَقَالَ ابْنُ سِيرِينَ: ” أُحَدِّثُكَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَقُولُ: قَالَ فُلَانٌ وَفُلَانٌ: كَذَا وَكذَا، لَا أُكَلِّمُكَ أَبَدًا “

“Ibnu Siiriin pernah menceritakan kepada seseorang satu hadits dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Orang tersebut berkata : “Telah berkata Fulaan begini dan begitu”.

Maka Ibnu Siiriin berkata : “Aku menceritakan kepadamu satu hadits dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan engkau berkata : ‘telah berkata Fulaan begini dan begitu’ ?. Aku tidak akan berbicara kepadamu selamanya.”

 

Beberapa poin penting:

  • Tidak main-main terhadap orang yang menentang Al-Qur’an dan Sunnah, baik dengan akalnya maupun dengan qiyas
  • Tidak main-main terhadap orang yang mengutamakan perkataan atau ucapan siapapun di atas Al-Qur’an dan Sunnah
  • Masyru’ alias dianjurkan menghajer (tidak menyapa dalam batas waktu tertentu ) bagi orang yang menentang Al-Qur’an dan Sunnah, sebagai pelajaran baginya
  • Menentang Al-Qur’an dan Sunnah dengan perkataan, ucapan atau pandangan figur tertentu merupakan faktor/sebab kehancuran
  • Kuatnya ittba’ para sahabat/salaf terhadap Al-Qur’an dan Sunnah

Ahad, 9 October 2016

[Marwan AM, Lc حفظه الله تعالى وغفر الله لوالديه)

Bagikan :

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*