Ini Alasannya Kenapa Pondok Pesantren Tidak Lagi Dipandang Sebelah Mata

Ini Alasannya Kenapa Pondok Pesantren Tidak Lagi Dipandang Sebelah Mata

Hasil kelulusan Ujian Nasional (UN) untuk pelajar SMA 2016 telah diumumkan, Sabtu (7/5). Meskipun sudah diimbau untuk tidak melakukan aksi selebrasi corat-coret dan konvoi lulusan, di sejumlah daerah aksi ini masih dilakukan sejumlah pelajar SMA, termasuk di Lombok Timur.
LULUS
Saban tahun, setiap kali pengumuman kelulusan terjadi, tontonan serupa selalu memerihkan pandangan. Parahnya,tak hanya corat coret saja namun juga hingga menyobek seragam sekolah hingga terlihat seksi.

Setelah corat-coret seragam, biasanya sebagian dari mereka ada yang konvoi sambil ugal-ugalan menggunakan sepeda motor di jalan raya. Sabtu kemarin, misalnya, di sepanjang jalan provinsi Lombok Timur, aksi gila-gilaan mengular dari kawanan muda mudi, saling bonceng satu sama lain bersama lawan jenis, dengan seragam sekolah yang sudah tak jelas warnanya.

Di Republik ini umumnya, aksi corat-coret seragam sekolah sudah merupakan sebuah kebiasaan yang identik dengan kelulusan, bak mata uang yang tak bisa terpisah kedua sisinya. Alasannya, corat-coret seragam itu merupakan ekspresi atas kebahagiaan karena telah dinyatakan selesai menempuh jenjang pendidikan SMA. Namun akankah luapan kebahagiaan dengan cara seperti ini dibenarkan, akankah demikian moral dan etika yang diajarkan para guru?

Kita tidak tahu, bagaimana perasaan guru, terutama orangtua ketika melihat anak perempunnya mengenakan seragam penuh coretan dan warna , dibonceng pria, konvoi-konvoi di jalan, hingga tak jarang diakhiri dengan sesuatu yang ‘miris’ terdengar. Bisa jadi mereka nyinyir memandangnya.

Selain itu, apapun alasannya, aksi semacam itu sama sekali tidak memiliki manfaat, di mata masyarakat juga sesuatu yang dianggap jelek, bahkan dicibir, “Itukah hasil belajar mereka selama 3 tahun?!” Apalagi bila dilihat dari kaca mata moral, etika, akhlak dan agama.

Bukan maksud menyudutkan, adegan-adegan ini nyaris selalu dilakukan anak-anak SMA dari sekolah umum. Padahal kalau ditelusuri, corat-coret seragam sekolah, konvoi di jalanan sambil berboncengan, berpelukan denngan lawan jenis yang bukan mahramnya, kita yakin sekolah manapun tidak mungkin mengajarkan demikian..

Namun dengan kerapnya dilakukan pelajar sekolah umum, merupakan tandanya besar bagi setiap orang. Pasti ada sesuatu yang tidak dimiliki sekolah umum, yang dipunyai sekolah berbasis pondok pesantren.

Lihat, bahkan sampai saat ini, kita belum temukan aksi serupa dari pelajar yang menimba ilmu di pondok pesantren. Begitu mereka lulus, tak ada yang merayakannya dengan cat, pilok berwarna-warni dan sorak sorai berlebihan. Paling banter saling peluk, ces tangan, dan tak ada konvoi kendaraan, apalagi bersentuhan dengan lawan jenis. Semua berjalan nyaris tanpa euforia alay mpot-mpotan.

Bahkan, tanpa menyebut namanya, sebuah pondok mengajak semua lulusannya untuk bersujud sebagai rasa syukur kepada Allah. Sesuatu yang dianjurkan oleh Islam kepada setiap orang ketika mendapatkan nikmat atau saat selamat dari bencana.

عَنْ أَبِى بَكْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ كَانَ إِذَا جَاءَهُ أَمْرُ سُرُورٍ أَوْ بُشِّرَ بِهِ خَرَّ سَاجِدًا شَاكِرًا لِلَّهِ

“Dari Abu Bakroh, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu ketika beliau mendapati hal yang menggembirakan atau dikabarkan berita gembira, beliau tersungkur untuk sujud pada Allah Ta’ala,” dalam riwayat Abu Daud.

Lebih dari itu, di antara mereka ada yang melakukan syukuran dengan cara berinfak, memberi makan orang yang tak mampu, dan lain sebagainya.

Bukankah bersyukur cara paling mulia, baik dan hebat untuk meluapkan rasa bahagia, sudah begitu Allah pun menjanjikan tambahan nikmat bagi orang yang melakukannya dengan ikhlas, dan sebaliknya, akan diazab dengan azab yang pedih bagi yang ingkar.
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.[Surat Ibrahim 7].

Kalau pun tak mampu berinfak dsb, minimal baju seragam tersebut diberikan kepada adik-adik kelas mereka, dan alangkah lebih baik jika seragam-seragam tersebut disumbangkan kepada yang membutuhkan.

Dibanding Pondok

Dibanding Pondok, sekolah umum biasanya, pendidikan akidah dan akhlak kurang ditanamkan. Pendidikan agama dalam 6 hari, kerap didapat hanya 2X45 menit. Padahal kedua hal di atas pondasi utama yang harus dimiliki setiap pelajar, terlebih pelajar yang masih abu-abu, labil dari segi pikiran dan fsikis. Tak ayal, jauhnya kedua hal tersebut, merupakan faktor utama lahirnya berbagai aksi yang tak terpuji, termasuk cara meluapkan kebahagiaan dengan corat-coret seragam, konvoi di jalan, dan lain sebagainya.

Kemiskinan moral, utamanya akibat terlalu sedikit mempelajari agama. Untuk menjauhkannya, pondok pesantren sangat berperan penting, di mana selalu mengajarkan anak-anak didiknya tauhid, akhlak, etika bermasyarakat, dan cara menjaga kehormatan diri, keluarga dan bangsa. Sehingga tercipta generasi yang tidak hanya berakhlak mulia, namun juga generasi yang bertauhid, dengan itu kita tak cuma menjumpai pemuda/mudi yang hebat dalam bergaul namun juga tidak melakukan kesyirikan, semisal menggunakan azimat, “senggeger” dan lain sebagainya.

Apa yang dilakukan pelajar-pelajar SMA sekolah umum tersebut, sekali lagi bukti minimnya pelajaran agama yang mereka dapat, terutama akidah dan akhlak, otak mereka lebih banyak dijejali pelajaran umum. Hingga apapun imbauan, baik dari guru maupun pemerintah dianggap angin lalu yang berbau amis dan memekakkan, hingga hidung, mulut dan telinga ditutup, aksi pun terjadi tanpa bisa dibendung.

Inilah alasan, kenapa pondok pesantren tidak lagi dipandang sebelah mata dengan seribu satu macam alasan, termasuk menganggap anak didiknya tidak memiliki masa depan dan lain sebagainya. Padahal di bawah asuhannyalah generasi agama dan bangsa akan membaik . Semoga bermanfaat!

Catatan:

Artikel ini ditulis atas saran Mudir Ma’had Assunnah Ustadz. Abdullah Husni hafidzhahulllah, dan terinspirasi saat melihat konvoi yang dilakukan pelajar SMA, Sabtu (7/5) kemarin.

Silent Room, Senin, 9/5/16

Marwan AM, حفظه الله تعالى ورعاه

 via Pondok Pesantren Assunnah Lombok
Bagikan :

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*