Lalu Terdiamlah Orang yang Kafir Itu (2)

Sekedar ilustrasi

Abu Bakar Al-Baaqilani rahimahullah merupakan ulama besar di masanya, maka pada tahun 341 H oleh raja Irak ia dipilih dan diutus ke Konstantinopel untuk adu argumen melawan orang nasrani

Mendengar kabar kedatangannya, raja Romawi memerintahkan para pembantunya untuk memendekkan pintu yang akan dilewati Al-Baaqilani, di mana ketika masuk Al-Baaqilani harus menundukkan kepala dan badannya, seolah-olah rukuk, maka dengan itu ia akan rendah di hadapan raja dan para pembantunya.

Ketika tiba di depan pintu, Al-Baaqilani menyadari tipu daya mereka, maka ia pun memutar badannya ke belakang dan masuk merunduk melewati pintu tersebut, ia berjalan membungkuk menjadikan punggungnya menghadap raja alih-alih dengan wajahnya.

Di sini Raja Romawi justeru merasa terhina.  Al-Baaqilani kemudian menyapa mereka tanpa mengucapkan salam (sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang mengucapkannya terlebih dahulu kepada Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), kemudian Al-Baaqilani melirik kepada pendeta yang paling senior, lalu berkata:

“Bagaimana keadaanmu, keadaan istri dan anakmu?”

Raja Romawi meradang, dan berkata:

“Apa kamu tidak tahu bahwa para pendeta kami tidak menikah dan tidak memiliki anak??!!”

Abu Bakar berkata: “Allahu Akbar!! Kalian sucikan pendeta-pendeta kalian dari wanita dan anak, lantas menuduh Tuhan kalian menikah dengan Maryam dan melahirkan Isa???!!!”

Raja Romawi makin meradang. Dengan pongah kemudian si Raja mengatakan: “Lantas bagaimana tanggapanmu dengan apa yang dilakukan Aisyah??!!”

Abu Bakar berkata: “Sesungguhnya Aisyah radhiallahu ‘anha telah dituduh oleh orang-orang munafik dan rafidhah, dan sesungguhnya pula Maryam dituduh oleh orang-orang Yahudi, dan keduanya adalah wanita-wanita suci.  Akan tetapi Aisyah menikah dan tidak melahirkan anak, sementara Maryam melahirkan anak tanpa menikah. Maka siapakah dari keduanya yang lebih pantas dituduh (dengan tuduhan batil), namun keduanya bersih dari semua tuduhan??!!”

Si Raja makin kesetanan. Ia kemudian berkata: “Apakah Nabimu pernah ikut berperang?!”

Abu Bakar: “Ya”

Raja: “Apakah ia berada di garda terdepan?!”

Abu Bakar: “Ya”

Raja: “Apakah dia menang?!”

Abu Bakar: “Ya”

Raja: “Apakah dia pernah kalah?”

Abu Bakar: “Ya”

Raja: “Aneh, seorang Nabi kalah??!!”

Abu Bakar: “Adakah tuhan yang disalib???!!!”

Lalu terdiamlah orang yang kafir itu

Sumber: Tarikh Bagdad (5/379), oleh Al-Khatib Al-Bagdadi.

Jumat, 18 /11/ 2016

[Marwan AM, Lc حفظه الله تعالى وغفر الله لوالديه]

Bagikan :

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*