Lue yang Natalan, Kok Gue yang Repot

Ada yang menulis begini:

“Bagi saya, dan banyak umat Kristen di Nusantara, tidak penting Haram dan Halalnya seorang Muslim mengucapkan Natal kepada mereka yang merayakan Natal.”

Emang gak penting buat lue, yang penting itu buat gue (muslim), karena kalau haram lantas gue lakukan, gue dapat dosa, ya gak, Sob??

***
“Bagi seorang Kristen, tidak masalah baginya mendapat ucapan salam atau selamat selamat, termasuk ucapan Selamat Natal dari orang lain…”

Kok gue (muslim) yang keukeuh mengucapkan selamat natal ya, ada apa nih, Sob?!!

***
“Bagi umat Kristen, pada umumnya, mereka tidak pernah mempermasalahkan dirimu – diriku memberi-mengucapkan Selamat Natal ke/pada dirinya(mereka). Karena memang, bagi seorang Kristiani ia tak boleh meminta atau menuntut ucap dan ucapan selamat,…….emangnya kami butuh!?”

Nah, Sob! Mereka gak minta, gak nuntut, gak butuh, gak ini gak itu, tapi kok gue (muslim) ramai kayak berebut tumpeng mengucapkan selamat natal?!!!

***
“……. Lihat di Media Sosial, Cetak, Pemberitaan, adakah ucapan dan pernyataan pemimpin umat, Gereja, atau tokoh agama Kristen, yang “meminta agar orang lain memberi ucapan selamat Natal ke/pada umat Kristen!? Adakah permintaan yang keluar dari mulut mereka agar semua umat beragama dan tak beragama memberi Salam dan Ucapan Natal ke/pada Si Kristen dan Sang Katolik!? Tidak ada, sekali lagi tidak ada; dan sekali lagi, tidak ada seperti itu.”

Tuh kan, Sob, apa gue bilang, gue bilang juga apa! Mereka itu gak pernah minta, bahkan gembongnya gak pernah minta sama sekali, lihat tuh apa kata si penulis curcol di atas, sampai 3 X menyebut “tidak ada” yang minta orang di luar kristen agar mengucapkan selamat natal kepada mereka. Lalu kenapa gue (muslim) ngasih ucapan itu cuma-cuma, padahal kompensasinya dosa?!!

haram_natal

 

***
“Gue yang Natalan, sana yang ribut;…… Kemudian, di sana juga yang saling debat, boleh tidaknya dan haram halalnya ucapkan Natal.” Sementara, umat Kristen dan Katolik, yang (akan) merayakan Natal, cuma menjadi penonton setia; setia menonton perdebatan antara sesama mereka di sana.”

Sob! Tuh kan, gue (muslim) saja yang rebut, berdebat satu sama lain terhadap sesuatu yang mereka tidak minta, tidak tuntut, tidak butuh, dan jelas-jelas “ tidak boleh”.

Tapi gue ribut bukan karena lue yang natalan, gue ribut karena banyak saudara gue yang tidak paham hakikat mengucapkan selamat natal, gue ingin mereka selamat. Lue mau jadi penonton setia kek, penonton khianat kek, gue I don’t care. Walau gue kurang suka cara mereka ribut. Sip!

***

haram_natal (1)
“Gue yang Natalan, malah lue yang ribut!”

Iya ya, lue yang natalan kok gue yang repot!

Catatan:
Banyak ummat Islam kurang mengerti agamanya, sehingga tak sedikit sekadar ikut-ikutan

Banyak ummat Islam kurang mengerti agamanya, sehinnga berbuat tanpa tahu hukumnya

Banyak ummat Islam kurang mengerti agamanya, sehingga tidak kuat memegang prinsip agamanya

Di tengah rintiknya hujan pagi, Sabtu, 19/12/2015

Marwan AM, حفظه الله تعالى

Bagikan :

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*