Naas Akibatnya Berdusta atas Nabi

[[Seri 26] Mengungkap Kebenaran, Menindih Kebatilan]

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang faasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian.”[al-Hujurat/49:6].

Barangsiapa yang mengamalkan hadits lemah maka telah terkena ancaman Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassallam :

مَنْ رَوَى عَنِّي حَدِيثًا ، وَهُوَ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَذَّابِينَ

 “Barangsiapa yang meriwayatkan dariku satu hadits yang dia mengetahui bahwa sesungguhnya hadits itu dusta (terhadapku) maka dia adalah termasuk salah seorang pendusta.” (HR. Ibnu Majah No. 41 dari Ali Rhadiyallahu’ anhudan dan datang dari selainnya. Dishahihkan oleh Al-Allamah Al-Albani Rahimahullah dalam Shahih Sunan Ibnu Majah).

Dalam riwayat Bukhari dan Muslim, juga Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka.”

Dalam riwayat Muslim, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, jika ia menceritakan setiap yang dia dengar.” 

Dalam riwayat Addarimi (1/98), Shaleh Addahan berkata,

مَا سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ زَيْدٍ يَقُولُ قَطُّ : ” قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، إِعْظَامًا وَاتِّقَاءً أَنْ يَكْذِبَ عَلَيْهِ 

“Aku tidak pernah mendengar Jabir bin Zaid (dalam menyebut hadist dhoif) mengatakan, ‘Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, sebagai pengagungan dan antisipasi untuk tidak berdusta atas beliau.”

 

Beberapa poin penting:

  • Waspada terhadap hadist lemah dan palsu
  • Wajib memastikan kesahihan sebuah hadist sebelum menisbatkannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
  • Pentingnya memahami ilmu hadist, dan keagungan para ahli hadist
  • Para Salaf tidak berbicara tentang hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagai antisipasi dan rasa takut jatuh kepada larangan yang keras, yakni meriwayatkan hadist lemah dan palsu

 

Ahad, 16 October 2016

[Marwan AM, Lc حفظه الله تعالى وغفر الله لوالديه]

 

 

 

Bagikan :

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*