Orang ini Berbalik Meludahi Nabi Setelah Sebelumnya Nyaris Memeluk Islam

Dikisahkan, konon Uqbah bin Abi Mu’ith – atasnya laknat Allah-, merupakan pria yang arif, bijaksana dan cerdas. Ia ingin meraih hidayah dan memeluk Islam. Namun keinginannya menuai hambatan, walhasil gegara teman buruknya hidayah yang sudah di pelupuk mata hilang terampas.

Sebelumnya, Uqbah telah berusaha memanfaatkan ketidakhadiran temannya yang tengah bepergian ke tanah Syam (Suriah). Ia  berulangkali mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam guna mendengarkan Al-Qur’an, hingga nyaris memeluk Islam. Akan tetapi sebelum menyatakan syahadat, temannya lebih dulu pulang.

Tiba di rumah, teman buruk itu langsung bertanya kepada istrinya prihal Uqbah selama ditinggal.

“Apa yang telah dilakukan temanku?”

“Temanmu telah masuk Islam,” jawab istrinya.

“Masuk Islam?!!”

“Ya”

Tanpa menghela nafas, ia langsung mendatangi Uqbah. Dengan tergesa-gesa, pintu diketuk. Begitu Uqbah keluar dan menyambutnya, tak ada basa-basi Uqbah langsung ditodong.

“Aku tahu kamu sudah masuk Islam!”

“Tidak,” jawab Uqbah

“Kamu telah masuk Islam!!”

“Tidak”

“Jika benar kamu belum masuk Islam, ayo kita buktikan, kita ke masjdil Haram, kamu ludahi wajah Muhammad –Rasulullah-”

Keduanya lantas keluar menuju masjid, saat  tiba, Rasulullah sedang sujud di depan Ka’bah seorang diri.  Nabi sendiri masa-masa itu tengah mengalami berbagai  penyiksaan, dari mulai diletakkan usus unta di punggungnya, diludahi, dilempar, hingga dipukul. Hebatnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tetap bersabar dan tak sedikit pun memohon agar Allah membalas perbuatan orang-orang kafir Quraisy, malah sebaliknya, beliau berdoa agar mereka mendapat hidayah:

اللهم اهد قومي فإنهم لا يعلمون

Ya Allah berilah hidayah kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka itu tidak tahu”. (HR. Tobaroni, dan Syeikh Albani dalam Silsilah Shohihah [7/531]]

Naasnya, saat Uqbah dan temannya datang, Nabi shallallahu baru saja pulang dari Thaif membawa kesedihan, dakwah beliau ditolak mentah, bahkan sejumlah pemuda dikerahkan untuk melempar Nabi, hingga malaikat penjaga gunung menawarkan kepadanya untuk melumat mereka.

“Wahai Rasulullah, berilah aku perintahmu. Jika engkau mau aku menghimpitkan kedua bukit ini pun niscaya aku akan lakukan!”

Rasulullah menjawab, “Jangan… Jangan! Bahkan aku berharap Allah akan mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang akan menyembah Allah semata, tidak disekutukanNya dengan apa pun… !”

Pandangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jauh ke depan, harapan beliau menggunung,  jiwanya bak samudra yang luas. Benar-benar jiwa seorang Nabi.

Namun demikian, Uqbah yang tadinya dekat dengan Nabi dan nyaris masuk Islam tak urung dan tanpa ampun meludahi wajah Nabi, menuruti permintaan temannya.  Apa reaksi Nabi?  Beliau hanya mengusap ludah dari mukanya yang mulia, lalu berdoa:

اللهم اهد قومي فإنهم لا يعلمون

Ya Allah berilah hidayah kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka itu tidak tahu.

Tak ada ucapan selain itu, sementara si celaka Uqbah pergi tanpa merasa bersalah.  Tidak lama sejak kejadian, pecahlah perang badar Kubro. Di antara yang tewas dalam perang ini adalah Uqbah, dan tewasnya ke neraka. Allah jebloskan dia ke dalam Jahannam.  Melalui wahyu, dikabarkan Uqbah gigit jari, menyesali perbuatannya. Dirinya tidak meraih hidayah karena mengikuti keinginan temannya, hingga penyesalannya diabadikan dalam firman Allah dalam surat Al-Furqan, ayat 27-29:

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul“.”

 يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا

Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab (ku).”

لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا

Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.”

(Sumber bacaan: Al-Hidayah, Syaikh Said bin Misfir Al-Qahthoni)

Kamis, 6 Oktober 2016

[Marwan AM, Lc حفظه الله تعالى وغفر الله لوالديه]

Bagikan :

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*