Panduan Meneropong Bid’ah

[[Seri 29] Mengungkap Kebenaran, Menindih Kebatilan]

ومن السنة اللازمة التي من ترك منها خصلة  لم يقلها ويؤمن بها لم يكن من أهلها

“Dan termasuk As Sunnah yang harus diyakini, barangsiapa meninggalkan salah satu dari As Sunnah ini –tidak menerima dan tidak beriman padanya- maka dia tidak termasuk golongan Ahlus Sunnah.

Dalam Syarhu al-Sunnah (no. 158), Imam Al-Barbahari berkata,

ولا يحل لرجل مسلم أن يقول: فلان صاحب السنة حتى يعلم منه أنه قد إجتمعت فيه خصال السنة لا يقال له: صاحب السنة حتى تجتمع فيه السنة كلها.

“Tidak boleh seseorang mengatakan: ‘Fulan Ahli al-Sunnah’ hingga yakin bahwa ia benar-benar menjalankan Sunnah. Jadi, tidak boleh memberikan predikat ‘Ahli Sunnah’ kepada seseorang, sebelum diketahui pasti bahwa telah terkumpul padanya sunnah seluruhnya.”

Dalam Majmu’ul Fatawa (35/414), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- berkata,

و البدعة التى يعدّ بها الرجل من أهل الأهواء ما اشتهر عند أهل العلم بالسنة مخالفتها للكتاب والسنة كبدعة الخوارج والروافض والقدرية والمرجئة

“Dan bid’ah yang seseorang digolongkan sebagai ahlul ahwa’ adalah [bid’ah] yang masyhur di kalangan ulama sunah penyelisihannya terhadap al-Qur’an dan Sunnah seperti bid’ah Khawarij, Rawafidh, Qodariyah, dan Murji’ah.”

Al Imam Asy Syathiby -rohimahulloh- berkata,

أن هذه الفرق إنما تصير فرقا بخلافها للفرقة الناجية في معنى كلي في الدين وقاعدة من قواعد الشريعة لا في جزئي من الجزئيات –إلى قوله:- ويجري مجرى القاعدة الكلية كثرة الجزئيات فإن المبتدع إذا أكثر من إنشاء الفروع المخترعة عاد ذلك على كثير من الشريعة بالمعارضة كما تصير القاعدة الكلية معارضة أيضا.

“Bahwasanya kelompok-kelompok pecahan itu memang menjadi pecahan dikarenakan dirinya menyelisihi Al Firqotun Najiyah di dalam suatu nilai yang bersifat umum di dalam agama, dan dalam suatu kaidah dari kaidah-kaidah syari’ah, bukan karena menyelisihi mereka dalam suatu perkara yang bersifat parsial, – sampai pada ucapan beliau:- Akan tetapi perkara parsial yang banyak pun akan berlaku seperti suatu kaidah umum.

Yang demikian itu dikarenakan seorang mubtadi’ itu jika banyak mengadakan perkara-perkara baru yang bersifat cabang, yang seperti itu akhirnya akan balik menentang syari’at, sebagaimana kaidah umum yang dibikin dia juga akan balik menentang syari’at.” (“Al I’tishom”/2/hal. 200)

 

Beberapa poin penting:

  • Dalam ucapan Imam Ahmad dan Imam Al-Barbahari, bahwa disebut ahlusunnah sejati bila berkumpul padanya seluruh ushul Sunnah, bukan hanya beberapa saja
  • Di antara ciri  bid’ah adalah[bid’ah] yang masyhur di kalangan ulama sunah penyelisihannya terhadap al-Qur’an dan Sunnah
  • Perkara yang belum jelas menyelisihi Sunnah tidak disebut bid’ah hanya dengan menilainya melalui pelakunya
  • Ulamalah referensi sesungguhhnya dalam memahami segala perkara yang menyelisihi Al-Qur’an dan Sunnah, bukan para penuntut ilmu, juga bukan orang-orang yang diklaim guru
  • Menghukum sesuatu sebagai perkara bid’ah bukan dengan suka-suka, juga bukan dengan tebakan dan kira-kira
  • Keluar dari lingkaran Sunnah tidak terjadi kecuali menyelisihi ushul agama, seperti ushul ahlusunnah dalam bab asma’ dan sifat Allah, Iman, qadar, sahabat, dan amar ma’ruf nahi  mungkar
  • Keliru, teledor dan salah dalam beberapa perkara yang tidak ada kaitannya dengan akidah, tidak serta merta pelakunya disebut ahli bid’ah dan ahwa’, lebih-lebih tidak diyakini hingga level wala’ dan wara’

 

Ahad,  23 Okt 2016

[Marwan AM, Lc حفظه الله تعالى وغفر الله لوالديه]

 

Bagikan :

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*