Para Ulama Salaf Mendahulukan Ilmu Daripada Makan Dan Minum

Apabila makan dan minum merupakan makanan badan, maka ilmu tentang Allah dan syariatNya adalah makanan hati dan ruh. Alangkah indahnya ungkapan Al Albiri yang berbunyi,
makan hati adalah inti-inti dari makna
bukan dengan memberinya makanan atau minuman

Orang yang berakal dan pintar akan mengedepankan makan hati daripada makanan badan. Karena dia mengetahui bahwa orang yang berbekal dengan makanan ruh, akan diberi-Nya kekayaan badan. Ia tidak memerlukan kecuali sedikit saja dari makanan badan. Sekedar membantunya agar bisa menjalankan ketaatan kepada Allah. Juga karena dia mengetahui bawa makan makanan untuk badan juga dilakukan oleh orang kafir, ahli maksiat, binatang dan tumbuhan. Adapun makan hati tidak akan didapatkan kecuali oleh hamba-hamba Allah yang mulia. Begitulah para ulama Salaf kita dalam memahami permasalahan ini.
Abu Hatim Ar Razi berkata, “kami berada di mesir tujuh bulan dan tidak pernah masakan kuah (karena kesibukan beliau untuk belajar sehingga tidak ada waktu untuk memasak dan menyiapkannya). Siang hari kami berkeliling kepala masyaikh (guru) dan malam hari kami gunakan untuk menulis dan mengoreksi catatan kami. Suatu hari saya bersama seorang teman mendatangi salah seorang Syaikh. Diberitahukan kepada kami bahwa beliau sedang sakit. Kami pun pulang melewati sebuah pasar dan tertarik pada ikan yang sedang dijual. Kami membelinya untuk digoreng dan dimakan. Setelah sampai di rumah, ternyata waktu kajian untuk Syaikh yang lain sudah tiba. Maka kami pun segera pergi ke sana dan meninggalkan ikan tersebut, dengan harapan bisa dimasak di waktu lain.
Lebih dari tiga hari ikan tersebut belum sempat dimasak karena kesibukan menuntut ilmu hingga hampir membusuk. Kami memakannya mentah-mentah karena tidak punya waktu untuk menggorengnya. Abu Hatim Ar Razi kemudian berkata. “ilmu ini tidak akan bisa diraih dengan badan yang santai” (Al Jarh wat Ta’dil, 1/5).
Isa bin Musa Al Mutawakkil berkata, “selama 30 tahun saya ingin seperti orang lain makan harisah (bubur yang dicampur daging) di pasar, namun saya tidak pernah bisa mendapatkannya karena selalu pergi pagi-pagi sekali untuk mengkaji hadits (waktu kajian hadits setelah subuh dan waktu penjualan harisah juga setelah subuh. Bila ia pergi membeli harisah dan memakannya ia akan terlambat dari mendengar hadist. Bila ia mendengar hadist maka ia tidak akan bisa memilih harisah. Beliau memilih mendengar hadist daripada membeli harisah. Sungguh baik baik pilihan) (Tarikh Baghdad, 11/178).
Ubaid bin Yaisy berkata, “Saya tidak pernah makan malam dengan tangan saya sendiri selama 30 tahun. Saudari saya yang menyuapi saya karena saya sibuk menulis hadits Rasulullah” (Al Jami‘, Khatib Al Baghdadi, 2/178).
Al Maliki berkata, “Muhammad bin Sahnun memiliki seorang budak yang bernama Ummu Madam. Suatu hari ia bersamanya dan ia sangat sibuk menulis sebuah kitab hingga malam hari. Maka budak tersebut pun memutuskan untuk membawakannya makanan dan meminta beliau untuk makan. Beliau berkata kepadanya, “saat ini saya masih sibuk“. Setelah lama menunggu, budak tersebut menyuapinya sambil ia terus menulis. Hingga tiba adzan shalat subuh beliau berkata pada budaknya, “saya telah merepotkan dirimu malam ini wahai Umum Madam. Bawa kemari makan yang engkau siapkan!“. Budaknya berkata, “Demi Allah wahai tuanku, saya sudah suapkan anda semalam“. Ia berkata kepadanya, “saya sama sekali tidak merasakan hal itu” (karena beliau tenggelam dan asyik menulis) (Tartibul Madarik, Qadhi Iyadh, 3/114).
Imam An Nawawi seharian tidak pernah makan kecuali sekali setelah Isya dan minum sekali ketika sahur. Hal ini disebabkan karena kesibukan beliau dalam belajar ilmu (Tadzkiratul Huffadz, Adz Dzahabi, 4/1472).
[disalin dari Kayfa Tatahammas fii Thalabil Ilmi Asy Syar’i karya Abul Qa’qa Alu Abdillah, edisi terjemah “102 Kiat Agar Semangat Belajar Agama” hal. 145-146, Pustaka Elba]
Artikel Muslim.Or.Id

Bagikan :

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*