Stop Merasa Dituduh Bid’ah!

Dalam banyak hadist, berulangkali Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kata “Bid’ah”. Sebagai penyambung lidah sekaligus pewaris Nabi, para ulama kembali mendengungkan kata ini untuk saling mengingatkan. Namun mendadak sejumlah orang keGeeRan (gede rasa), dengan kata lain, tersinggung, merasa dituduh, lalu teriak kencang: “Stop Menuduh Bid’ah!”

Hingga kini, di beberapa tempat, saat menyampaikan ayat-ayat Allah dan hadist-hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut kata “Bid’ah” terdengar pahit bagi sebagian hamba Allah. Setiap kali kata ini terlontar, dirinya tersingung, geram dan marah. Walhasil, untuk sementara, demi menghindari batu melayang dan pisau terbang, kata ini oleh sebagian dai diganti dengan terjemahannya: “perkara baru”.

Kalau ditengok secara ilmiah dan sejarah, kalau saja Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu tidak menyebut perkara baru dalam agama sebagai bid’ah, maka para ulama dan dai tentu juga tidak menyebutnya demikian. Dengan ungkapan lain, ketika kata ini terlontar kembali saat menyebut hadist Nabi, lalu penyebutnya dianggap menuduh, maka Nabi-lah yang pertama kena anggapan tersebut, sebab beliau empunya sabda dan hadist.

Solusinya, dengan lembut kami katakan, “Stop Merasa Dituduh Bid’ah !”. Sebab tak ada tujuan lain para ulama dan dai mengucapkannya, kecuali untuk mengingatkan kaum muslimin akan bahayanya. Kalau Anda bersedia menerima, maka itu yang diharapkan, bila sebaliknya, stop merasa dituduh. Saya juga berharap, mudah-mudahan goresan mungil ini tidak dianggap menuduh bid’ah…ehm..

Studio Satu Radio, Selasa, 15 /11/2016

[Marwan AM, Lc حفظه الله تعالى وغفر الله لوالديه]

Bagikan :

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*