Syaikh Husni rahimahullah & Sandal (Kisah Inspratif)

Sangat sulit melupakan sosoknya, walau sudah sekian tahun meninggalkan mereka untuk selamanya. Jamaah Sunnah selalu ingat akan dirinya. Tidak hanya ingat sosoknya yang bersahaja, namun juga tak akan pernah lupa bahwa melalui beliaulah mereka keluar dari belenggu-belenggu kesyirikan dan bid’ah. Kalau bukan karena Allah kemudian beliau, mungkin sampai saat ini mereka masih terpasung dengan ajaran-ajaran sesat.
sandal-jepit-murah1
Mungkin di luar sana tidak ada yang mengenal siapa Syaikh Husni rahimahullah, namun bagi Jamaah Sunnah di Lombok, khususnya Lombok timur, NTB, beliau adalah sosok yang sangat populer dan penomenal, sosok manusia yang luar biasa, bagaimana tidak, Lombok bersinar terang dengan cahaya Sunnah melalui dirinya. Ia bak oase di tengah gersangnya akidah yang benar, di tengah keringnya ajaran Sunnah.
Jika ditengok perjuangan beliau, setiap orang akan geleng-geleng kepala, mirip menumbuhkan pohon pisang di tengah padang pasir, cemohan, hinaan, berupa-rupa ujian keras beliau hadapi, namun kini pohon itu hidup dengan daun yang rindang dan buah yang banyak, juga matang dan enak.
Wajar jika Jamaah Sunnah Lombok selalu ingat figur, sosok, persona, sifat, juga akhlak beliau, sampai-sampai jika ada sesuatu, selalu beliau yang diingat, dijadikan contoh, dijadikan barometer, bahkan melihat anaknya seolah sedang melihat beliau rahimahullah. Seperti dalam kisah berikut ini:
Suatu hari, saat-saat baru pulang dari Madinah setelah lulus kuliah, Ustadz. Abdullah Husni (Ananda Syaikh Husni rahimahullah) pergi untuk mengisi kajian ke Paok Dangka (sebuah kampung).
Singkat cerita, Jamaah Sunnah Paok Dangka sangat antusias mendengarkan kajian Ustadz.Abdullah Husni, seolah-olah sedang melihat sosok Syaikh Husni rahimahullah di hadapan mereka.
Sampailah pada sesi tanya jawab, salah seorang dari jamaah bernama Mas’ud alias Amak Marsafi mengangkat tangan, dugaan semua orang dia pasti akan bertanya, namun ternyata ia hanya ingin menyampaikan sesuatu, sebuah pengalaman akhlak saat dia menimba ilmu kepada Syaikh Husni rahimahullah, ia menuturkan: ‘Ustadz Abdullah, saya masih teringat, mamik pelungguh (Ayahanda), tuan guru kami tercinta, ketika itu beliau mengumumkan di hadapan para jamaah.
Beliau (Syaikh Husni rahimahullah) berkata: ‘Para jamaah sekalian, tiang (saya) ngendeng (minta) maaf, barusan saya ke WC memakai sandal, entah sandal siapa, oleh karena itu tiang mohon maaf sebesar-besarnya karena memakai sandal tanpa izin.
 
Sesaat setelah mendengar ucapan itu, saya menoleh kepada para jamaah, saya menyaksikan air mata bercucuran, mereka terisak-isak sesenggukan, bahkan ada yang berusaha merunduk karena tak kuasa menahan air mata.
Ustadz. Abdullah Husni pun menjawab dengan nada berat tercekat: ‘Keh doayang ye atek ne ampunin dosa-dosa mamik tiyang dait atek ne bermanfaat ilmu-ilmu yang telah disampaikan, de pede amalang ye.’ (Mari kita doakan beliau agar diampuni dosa-dosa Ayahanda, dan agar bermanfaat ilmu-ilmu yang telah disampaikan, kita amalkan dia).
Terbetik dalam hati saya, Syaikh Husni rahimahullah sampai mengumumkan mengenai sandal yang beliau pakai, kenapa hal yang sekecil ini diumumkan di hadapan jamaah yang seandainya tanpa izin pun para jamaah akan meridoinya. Bahkan seandainya beliau meminta yang lebih dari itu, insyaAllah akan diberikan oleh mereka. Sebuah akhlak yang luar biasa, dan rasa takut kepada Allah yang sangat tinggi, yang patut dicontohi oleh setiap dai.
 
Catatan:
?Saya dalam kisah ini adalah Ustadz. Abu Nadhiroh, salah satu penggawa Ma’had Asunnah, pengisi tetap Radio Satu Radio, Lombok Timur NTB
?Mungkin tulisan ini tidak manis karena memang bukan gula, tapi mudah-mudahan kita dapat memetik pelajaran yang manis dari isinya yang berguna..amiiin
 
Di ruang sepi, Ahad, 13/12/2015
✏Marwan AM, حفظه الله تعالى

 

Bagikan :

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*