Tanya Kajian Bukan untuk Ngaji, Tapi…

Setiap kali (tidak setiap hari) mampir di sebuah warung lesehan yang tidak jauh dari Markas Assunnah Bagik Nyaka, selain basa basi, pemiliknya selalu bertanya tentang ada tidaknya kajian digelar di Markas.

Hati tentu riang mendengarnya. “MasyaAllah hebat banget orang ini, antusias mau menuntut ilmu, hadiri kajian,” batin saya selalu.

Dengan senang hati, saya pun memberitahunya sekaligus menginformasikan ustadz yang bakal mengisi, baik lokal maupun tamu.

Suatu sore (agak senja), seperti biasa, terjadi dialog tanya kajian. Pedagang (P), Saya (S).

P: “Ustadz, ada kajian gak nanti malam?”.

S: “Sekarang hari Selasa, kan?”

P: “Ya ”

S: “Kalau begitu, ya ada, kajian rutin malam Rabu. Kayaknya Ustadz Abdullahh Husni yang isi ”

P: “Alhamdulillah, nanti malam berarti bakal banyak omzet ”

Tuweng..weng..weng…saya terperanjat…

P: “Oya, bukan tamu ya? Kalau tamu, biasanya lebih banyak lagi dapatnya”

S (Dengan sedih, dalam hati): “Rupanya orang ini nanya, bukan untuk ikut kajian, tapi untuk menakar omzet dagangannya.”

Bisa jadi cerita serupa kerap terjadi dengan narasi dan pemeran yang berbeda, namun kisah ini adalah fakta-nyata yang saya jumpai-temukan. Semoga bermanfaat!

Sabtu, 24 Sep. 2016

[Marwan AM, حفظه الله تعالى وغفر الله لوالديه]

Bagikan :

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*