Tersesat di Jalan yang Terang, dan Syaikh Husni rahimahullah di Mata Mereka

Kendati kebenaran seterang matahari di siang hari, namun tidak setiap orang dapat memperoleh sinarnya. Tak sedikit malah berada dalam kesesatan, bak berada dalam tempurung di bawah cahaya. Walaupun cahayanya terasa, kebenarannya diakui, mereka tetap bergeming, maka tak salah jika mereka disebut tersesat di jalan yang terang.

Tidak sekali dua kali saya bertemu muka bersama kiyai, tuan guru, orang-orang terpandang yang pernah hidup, berjumpa, baik dalam waktu yang lama, bulanan, dan harian dengan tuan guru atau yang lebih dikenal Syaikh Husni rahimahullah. Tak satu pun dari mereka saya dengar kecuali memberikan puja-puji kepada beliau, dari muamalah yang indah hingga sifat dan ilmu beliau yang luas. Lebih dari itu, mereka mengakui kebenaran dakwah yang beliau dengungkan.

Tersesat

Tuan guru Haris (bukan nama asli) misalnya, saat berkunjung ke rumahnya, tuan guru terpandang ini banyak sekali bertutur mengenai Syaikh Husni rahimahullah, dari mulai memuji perangai indah beliau hingga dakwah yang dibawa. TG. Haris mengaku, dakwah Syaikh Husni rahimahullah adalah dakwah yang hak. “Apa yang beliau dakwahkan adalah kebenaran,” akunya tampa ragu sangat kami asyik ngobrol.

Namun, saat melihat ruang tamunya, berbagai gambar makhluk hidup termasuk foto tuan guru besarnya berebut menghiasi dinding. Dirinya yang tetap tak berubah dengan ‘pijakannya’ selama ini, membuat saya bergumam, “Aneh, mengakui tapi tak menerima.”

Setali tiga uang, Tuan guru Hafidz (nama samaran) demikian, ia yang mengaku pernah 7 bulan bertemu Syaikh Husni rahimahullah di Makkah, dengan bangga berkisah tentang ketawadhuan, ketekunan dan ilmunya. “Yang saya lihat di sana, beliau begitu tawadhu, tekun dan alim,” kisahnya.

“Dan yang luar biasa, ajaran murni itu mampu dia dakwahkan di Lombok,” imbuhnya seraya memanggut-manggutkan kepala.

Namun lagi-lagi mata saya terpusat, di belakang kursi tempat dia duduk, dinding itu tertempel gagah foto tuan guru gedenya. Melihat dirinya yang sampai saat ini masih pada pendirian ‘kelirunya’, saya bergumam, “Aneh, mengakui tapi tak menerima.”

Tuan guru Komar ( bukan nama asli) juga, saat berbincang-bincang di teras rumahnya, dari bibirnya tersebut puja-puji akan sosok Syaikh Husni rahimahullah di matanya. Tuan guru yang sudah sepuh ini, selain memuji keuletan, ketajaman dan kecerdasan Syaikh Husni rahimahullah, ia juga dengan mimik serius mengutarakan kebenaran dakwah beliau. “Hebat Syaikh Husni rahimahullah, ajaran hak itu dibuat mendengung di langit Lombok, khususnya Lombok Timur,” sebutnya dengan nada serius.

Namun lagi dan lagi, gambar/foto termasuk foto tuan guru agungnya masih dibiarkan liar menempel dinding halus tembok bagian dalam rumahnya. Entah apa yang membuat dirinya masih berkutat di ‘dunianya’, saya bergumam,“Aneh, mengakui tapi tak menerima.”

Walau hakikatnya tidak sama, mendengar pengakuan mereka namun tetap tak menerima, saya teringat syair Abu Thalib:

ولقد علمت بأن دين محمد … من خير أديان البرية دينا

لولا الملامة أو حذار مسبة … لوجدتني سمحا بذاك مبينا

“Dan sungguh aku tahu bahwa agama Muhammad

adalah sebaik-baik agama manusia

Seandainya bukan karena celaan atau khawatir cacian

niscaya engkau akan dapati aku sukarela menerima agamamu”

[Tafsiir Al-Baghawiy, 1/48].

Saat derasnya hujan mengguyur Desa Santri, Senin, 15/02/2016

Marwan AM, حفظه الله تعالى

—-
http://pondokassunnah.com/tersesat-di-jalan-yang-terang-da…/

Bagikan :

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*