Ummi! Rintihanmu akan Selalu Kuingat

Maha benar Allah…

Perempuan itu merintih hebat menahan rasa sakit. Di pojok ruangan itu ditemani suaminya, bak diiris sembilu, bagian tubuhnya terasa perih tiada ampun. Mulutnya berkomat-kamit tiada putus diiringi desahan demi desahan pilu.

Selama hampir 10 jam ia menahan perih, dengan volume sakit yang berangsur-angsur dan berbeda-beda, sesaat terasa seperti jemari diikat karet dengan kencang, saat yang lain terasa seperti buang air besar setelah sembelit satu bulan, beberapa saat berikut terasa seperti 20 tulang dipatahkan serentak, yang puncaknya serasa nyawa tengah dicabut. Selama itu, ia berzikir namun tidak jarang berteriak memanggil ibunya, “Ibuuuuuu sakitnyaaa…”

Di ruang gawat darurat, setiap kali perih itu datang, dipegangnya kuat tangan suaminya seraya berdesah…sakiiiiit…sakiiiiiit…sakiiiiiit abi… air mata tumpah dari suaminya…dia tahu ini pertama kali istrinya merasakan apa yang dialami setiap ibu. Dibiarkannya istrinya mendesah, berteriak, barangkali teriakan itu dapat mengurangi rasa perihnya, dielusnya tangan lembut itu sembari dengan setengah berbisik memintanya bersabar.

ummu

Perempuan itu, baginya, malam itu adalah malam bersejarah, ia baru tahu pedih dan perihnya melahirkan. “Ternyata begini perihnya melahirkan,” ucapnya lirih dengan wajah pucat.

Menyaksikan erangan pilu, ditatapnya wajah istrinya, pikiran suami itu terbang kepada ibunya. Dalam hidupnya, ia baru pertama kali menyaksikan langsung perempuan melahirkan. “Beginikah ibu dulu melahirkanku, ternyata kalau bukan nyawa taruhannya, minimal sakit pasti menyiksanya bahkan berjam-jam lamanya,” kamitnya berurai air mata di hadapan istrinya.

Ini baru satu di antara sekian ujian yang akan dialami setiap perempuan/ibu dalam perjalanan mengarungi hidup bersama keluarga barunya. Jika kita urai satu per satu, ujian demi ujian yang akan mereka alami, kita barangkali akan kehabisan air mata, iba kepada mereka. Maha benar Allah, wajar jika kita diminta berbakti kepada ibu 2 kali lebih banyak daripada Ayah.

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ

“Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Di bawah langit Dasbo yang sedang mendung, Rabu, 17/02/2016

Marwan AM, حفظه الله تعالى
——–
http://pondokassunnah.com/ummi-rintihanmu-akan-selalu-kuin…/

Bagikan :

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*