Untuk Anda yang Kembali ke Manhaj Salaf

Percaya atau tidak, saya sangat bahagia melebihi bahagianya orang yang berhasil poligami bila mendengar kabar tetangga kembali ke manhaj salaf.

Sebaliknya, percaya atau tidak, saya paling sedih melebihi sedihnya orang yang belum menikah padahal temannya sudah menggendong cucu bila mendengar kabar tetangga kembali ke jalan bid’ah.

Alhamdulillah, kabar-kabar terkait mulai banyaknya orang mengenal manhaj salaf, ngaji sunnah menggema membuat saya sangat hepi, bagaimana tidak hepi, Allah saja sangat bahagia dengan taubat hambaNya melebihi bahagianya seorang hamba yang kehilangan bekal dibawa pergi oleh untanya ketika berada di tengah padang pasir, lalu saat sudah tak punya harapan hidup ia menemukan kembali unta tersebut beserta bekalnya.

Alhamdulillah kita bahkan menyaksikan mereka dari waktu ke waktu keluar dari geng-geng sesat, terlepas dari jeratan syubhat yang menjurangkan, yang telah lama membelit akal dan pikiran mereka, bahkan bertahun-tahun lamanya, yang membuat niat dan usaha baik mereka kosong dan sia-sia.

Alhamdulillah, melihat mereka sekarang, bahasa tubuh mereka seakan mengatakan:

●katakan tidak pada hizbi

●katakan tidak pada tabligi

●katakan tidak pada sufi

●katakan tidak pada ikhwanul muslimin

●katakan tidak pada liberalisme

●katakan tidak pada sekularisme

●katakan tidak pada..

●dan katakan yes kepada manhaj salaf, manhaj Nabi shalallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya radhiallahu anhum, sebab mereka adalah orang paling tahu jalan yang benar dan tentu paling rahim dengan sesama.

Sekali lagi, kembalinya mereka kepada manhaj salaf tentu membuat kita sangat bahagia, karena prinsipnya:

《لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه》 (رواه البخاري(13),  و مسلم ( 162》

Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya,” sabda Nabi shallahu alaihi wasallam.

Namun kebahagiaan ini sedikit ternoda oleh kesedihan dan keresahan. Maksudnya?

Dirasa-rasa, dilihat dan raba, sebagian mereka masih bimbang dan ragu, bukan karena apa-apa, tapi karena syubhat yang masih menancap di benak mereka, ibarat susuk belum dicabut dari kepala.

Lebih-lebih syubhat-syubhat itu terus dipasarkan oleh para pedagangnya, hingga banyak di antara mereka masih terombang-ambing ketika syubhat-syubhat itu terdengar lagi di telinga mereka, ini satu sisi. Juga mereka tidak langsung mendalami ilmu kepada ahlussunnah, sisi yang lain

Lalu solusinya bagaimana?

 

[Bersambung…]

 

Di ruang mudir, Kamis, 12/11/2015

✏Marwan Abu Abdil Malik, Lc. حفظه الله تعالى

Bagikan :

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*